10 Ciri-ciri Budaya Politik Kaula dalam Kehidupan Sehari-hari

Salam sejahtera bagi para pembaca! Apa kabar anda semua? Semoga sehat selalu. Apakah pembaca sudah membaca berita dunia politik hari ini? Nah, kepedulian pembaca terhadap dunia politik merupakan salah satu dari budaya politik yang ada di dunia. Seperti apakah budaya politik yang sedang kita alami? Terdapat tiga budaya politik yang biasa kita kenal, yaitu budaya politik parokial, kaula, dan partisipan. Dalam kesempatan ini, penulis mengajak pembaca untuk membahas budaya politik kaula.

Budaya politik kaula memang lebih baik dibandingkan dengan budaya politik parokial. Namun, masih terdapat beberapa kelemahan dari budaya politik jenis ini yang menyebabkan terjadinya pergeseran budaya politik. kelemahan utama dari budaya politik kaula ialah titik utama dari budaya politik ini merupakan seorang tokoh politik. apabila tokoh politik yang diunggulkan ternyata memiliki kekurangan yang menurunkan tingkat kepercayaannya di tengah masyarakat, maka masyarakat akan kecewa dan menjadi tidak peduli lagi terhadap kehidupan politik negara, sehingga terjadi pergeseran budaya politik. dari yang awalnya budaya politik kaula menjadi budaya politik parokial yang bersifat pasif.

Pengertian Budaya Politik Kaula

Budaya politik kaula merupakan salah satu jenis budaya politik lainnya yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Budaya politik kaula dapat pula kita kenal sebagai budaya politik subyek. Di dalam budaya politik kaula, masyarakat yang terkait di dalam budaya politik tersebut sudah relatif maju dalam hal partisipasi politiknya, begitu pun halnya dengan kondisi sosial dan ekonominya. Sekalipun sudah maju, tapi partisipasi politik dalam budaya politik kaula masih terhitung pasif. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan di dalam budaya politik kaula, rakyat mengutamakan subyek atau tokoh yang terkemuka di dalam politik.

Dalam sejarah negara Indonesia sendiri, budaya politik kaula mulai sangat terasa pada masa pemerintahan orde baru. Banyaknya partai politik yang ikut serta dalam pemilihan umum yang dilaksanakan pada masa tersebut. Pada saat itu pula, rakyat Indonesia dibebaskan untuk menentukan pilihannya, baik untuk pemilu anggota legislatif, maupun pemilu presiden, sesuai dengan subjektivitas dari masing-masing diri mereka.

Penguraian Budaya Politik Kaula dalam Kehidupan Sehari-hari

Budaya politik merupakan salah satu bagian dari kehidupan politik yang tidak akan pernah lepas dari suatu masyarakat. Budaya politik sangat terpengaruh dari adanya faktor yang mempengaruhi partisipasi, karena keduanya memiliki hubungan yang erat. Dapat dikatakan bahwa partisipasi politik yang sedang merupakan salah satu ciri khas dari budaya politik kaula dalam kehidupan sehari-hari. Nah, agar pembaca lebih memahami seperti apa tepatnya budaya politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, di bawah ini penulis uraikan beberapa ciri-ciri budaya politik kaula dalam kehidupan sehari-hari:

1. Subjektivitas yang Tinggi di Tengah Masyarakat

Seperti yang telah disampaikan di atas, budaya politik kaula merupakan salah satu budaya politik yang sangat mengedepankan subjektivitas dari setiap diri rakyat yang ada di suatu wilayah tertentu. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata subjektivitas memiliki makna yaitu segala hal dipandang berdasarkan pandangan, pemikiran, atau perasaan diri sendiri. Subjektivitas yang tinggi ini akan mengarahkan masyarakat ke dalam kehidupan politik yang kurang aktif bila dibandingkan dengan budaya politik partisipan.

Subjektivitas yang tinggi di tengah masyarakat dengan budaya politik kaula nantinya akan mendorong masyarakat lebih menggambarkan kondisi politik kepada seorang atau sekelompok elit politik tertentu. Hal ini tentunya akan menurunkan kepekaan politik dari masyarakat dan bukan tidak mungkin akan menjadi penyebab konflik sosial ketika terjadi benturan pemahaman atau pemikiran.

2. Lebih Mengutamakan Tokoh Politik


Ciri pertama dari budaya politik kaula ialah tingginya subjektivitas di tengah masyarakat. Hal ini akan mengarahkan masyarakat untuk lebih mementingkan tokoh pemimpin politik tertentu yang sesuai dengan kriteria dari masyarakat itu. Kekhawatiran yang dirasakan oleh suatu negara atau wilayah yang di dalamnya terdapat budaya politik kaula ialah, ketika para tokoh politik tersebut ternyata melakukan hal yang membuat para pendukungnya kecewa, maka nantinya akan terjadi pergeseran budaya politik, dari kaula menjadi parokial.

Bukan hanya pergeseran budaya politik yang dikhawatirkan terjadi. Di sisi lain, kondisi rakyat yang lebih mengutamakan tokoh politik akan lebih rentan mengalami perpecahan ketika terjadi gesekan atau pertentangan di antara tokoh-tokoh politik yang didukungnya. Perpecahan ini dapat menjadi penyebab terjadinya disintegrasi nasional yang harus dihindari.

3. Rentan Terhadap Perubahan Budaya Politik

Segala subjektivitas dan tingkat dukungan kepada para tokoh politik yang akan menyebabkan perpecahan ini juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan budaya politik. Terdapat dua kemungkinan terjadinya perubahan budaya politik ini, entah menjadi budaya politik parokial yang sangat pasif, atau menjadi budaya politik partisipan dimana tingkat partisipasi politik masyarakatnya sudah lebih aktif dibandingkan budaya politik kaula.

Perubahan budaya politik dari kaula menjadi parokial dapat terjadi apabila masyarakat menjadi semakin tidak peduli terhadap politik dan tingkat partisipasi politik masyarakat menjadi sangat rendah. Di sisi lain, apabila budaya politik kaula ini diiringi dengan usaha pemerintah dan tokoh masyarakat yang baik dalam meningkatkan tingkat partisipasi politik, maka budaya politik kaula akan berubah menjadi budaya politik partisipan.

4. Masyarakat Lebih Sadar Terhadap Kebijakan Politik

Di dalam budaya politik kaula, masyarakat lebih sadar terhadap kebijakan politik atau kebijakan publik yang tengah berlangsung atau sedang dibuat di negaranya atau di wilayahnya. Masyarakat memperhatikan apa yang terjadi dengan kebijakan dan mengikuti perkembangan tahap-tahap kebijakan publik. Sekalipun begitu, masyarakat hanya sebatas mengetahui kebijakan publik berikut pelaksanaannya, namun tanpa usaha untuk ikut mengawasi jalannya kebijakan tersebut.

Yang dimaksud dengan mengawasi disini ialah seharusnya masyarakat mengawasi apakah kebijakan publik berjalan dengan semestinya atau tidak, memberikan kritik dan saran terhadap pelaksanaan kedaulatan rakyat dan lain sebagainya. Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap kebijakan politik ini memang lebih tinggi bila dibandingkan dengan masyarakat yang menganut budaya politik parokial.

5. Kecenderungan Masyarakat untuk Patuh Terhadap Pemimpin Politik

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, di dalam masyarakat dengan budaya politik kaula memiliki subjektivitas tinggi, terutama terhadap pemimpin politik. Terdapat pengaruh positif dari hal ini, yaitu adanya kecenderungan masyarakat untuk lebih taat terhadap pemimpin mereka. Kepatuhan rakyat terhadap pemimpin merupakan satu modal besar yang harus dimiliki oleh suatu negara untuk dapat mencapai tujuan pembangunan nasional dari negara tersebut sehingga segala tujuan tersebut dapat dengan mudah dicapai.

Kepatuhan masyarakat ini kadangkala sering disalahartikan oleh para pemimpin sehingga pemimpin cenderung bersikap otoriter dan tidak mau berganti kepemimpinan. Contoh nyata dari kejadian ini adalah pada masa pemerintahan orde baru dimana budaya politik kaula sedang berlangsung di Indonesia dan presiden pada masa itu memiliki masa jabatan yang sangat lama, yaitu tiga puluh dua tahun.

6. Kesadaran Rakyat yang Tinggi Mengenai Kekuasaan Pemerintah

Dalam masyarakat dengan budaya politik kaula, telah kita ketahui bersama bahwa mereka memiliki kesadaran terhadap segala kebijakan politik. Maka dari itu, di dalam masyarakat dengan budaya politik jenis ini, masyarakat juga memiliki kesadaran dan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai kekuasaan pemerintah.

Dengan menyadari kekuasaan pemerintah inilah, rakyat dapat mematuhi pemerintah dan para penguasa atau elit politik dalam negara tersebut. Hal ini dikarenakan, rakyat juga mengetahui konsekuensi apa yang harus ditanggung ketika mereka tidak taat dan tunduk terhadap kekuasaan pemerintah. Di sisi lain, masyarakat juga menyadari bahwa pada akhirnya segala kekuasaan pemerintah dilaksanakan untuk kepentingan rakyat yang bersangkutan pula.

7. Tidak Adanya Semangat Rakyat untuk Menganut Budaya Politik Partisipan

Ciri selanjutnya dari masyarakat dengan budaya politik kaula yaitu tidak adanya semangat rakyat secara umum untuk menganut budaya politik partisipan. Tidak ada semangat disini berarti bahwa masyarakat sudah nyaman dengan kondisi yang ada sehingga merasa tidak diperlukan lagi adanya perubahan budaya politik atau pun peningkatan tingkat partisipasi politik masyarakat. Hal ini tidak bermasalah selagi pemerintah yang memerintah pada budaya politik ini masih melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar. Namun, jika pemerintah telah melenceng dari tugas yang semestinya dilakukan olehnya, sudah seharusnya rakyat ikut bergerak.

Untuk bergerak ini, rakyat harus digerakkan oleh kaum yang lebih sadar politik, seperti partai politik, Lembaga Swadaya Masyarakat, atau para mahasiswa agar bersemangat untuk meningkatkan budaya politiknya. Hal ini pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1998 saat terjadi reformasi pemerintahan secara besar-besaran yang diikuti dengan perubahan budaya politik kaula menjadi budaya politik partisipan.

8. Acuh dalam Menanggapi Kondisi Suasana Politik


Di dalam masyarakat dengan budaya politik kaula, masyarakatnya memang lebih menyadari kondisi politik atau situasi politik yang terjadi di sekitarnya. Namun, kesadaran tersebut hanyalah sebatas kesadaran tanpa adanya tindak lanjut, sehingga yang terjadi adalah keacuhan masyarakat dalam menanggapi suasana politik yang terjadi. Yang dimaksud dengan keacuhan yaitu masyarakat tidak peduli dengan suasana politik sekalipun mengetahui apa yang terjadi.

9. Masyarakatnya Akrab dengan Peradaban Barat

Berbeda dengan budaya politik parokial yang lebih bersifat konservatif atau kuno, masyarakat dengan budaya politik kaula menjadi memiliki budaya politik tersebut karena akrabnya mereka terhadap peradaban di barat yang mana pada umumnya memang memiliki budaya politik kaula.

10. Rakyat Kurang Mempedulikan Sistem Politik

Seperti yang telah penulis sampaikan sebelumnya, rakyat acuh dalam menanggapi suasana politik di dalam budaya politik kaula. Hal ini menyebabkan efek lanjutan, yaitu rakyat kurang mempedulikan sistem politik. Sistem politik yaitu suatu keterkaitan yang teratur di antara unsur-unsur politik agar mencapai tujuan politik secara efektif dan efisien. Ketika sistem politik ini tidak dipedulikan, bukan tidak mungkin jika dunia perpolitikan dari suatu negara atau wilayah mengalami kekacauan.

Uraian di atas merupakan penjelasan mengenai materi ciri-ciri budaya politik kaula dalam kehidupan sehari-hari yang dapat penulis sampaikan kepada pembaca dalam kesempatan yang indah kali ini. Semoga dengan membaca materi ini pembaca dapat memahami dengan baik apa saja yang menjadi ciri-ciri budaya politik kaula sehingga membedakannya dengan tipe-tipe budaya politik di Indonesia yang lainnya. Di sisi lain, dengan mengetahui ciri-ciri budaya politik ini kita juga dapat memahami apakah budaya politik ini cocok untuk diterapkan di negara kita atau tidak. Sampai jumpa pada kesempatan selanjutnya dan semoga kesuksesan senantiasa mengiringi langkah kehidupan para pembaca.

, ,
Post Date: Friday 12th, January 2018 / 06:51 Oleh :
Kategori : Politik