15 Tokoh Pers Indonesia yang Menginspirasi Dalam Tanggung Jawabnya

Pers mempunyai pengertian yang semakin luas seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Jika sebelumnya yang dimaksud dengan pers adalah media cetak dan wartawannya, kini pers mencakup televisi, media sosial dan internet. jadi, pers adalah sebuah usaha penerbitan yang menyampaikan pikiran perasaan, dan pendapatnya ke publik sebagai salah satu cara memberikan informasi dan mempengaruhi orang lain.

Di Indonesia, sejarah pers dimulai sejak zaman kolonial Belanda di awal abad 19. Kemudian, saat ini landasan hukum pers di Indonesia diatur dengan UU Pers dalam tugas, fungsi dan wewenangnya. Dalam sistem politik, pers merupakan bagian dari fungsi infrastruktur politik yang seharusnya  sebagai penyampai aspirasi masyarakat kepada lembaga negara. Dalam menjalankan tugasnya para tokoh pers terikat dengan kode etik jurnalistik dan asas-asas pers. Semua ini diberlakukan agar wartawan sebagai tokoh pers bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Kode etik jurnalistik, yaitu :

  • Harus bersikap indepen, di mana berita yang dihasilkan akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk.
  • Dalam menjalankan tugas harus menggunakan cara-cara yang profesional
  • Berita yang dimuat tidak bohong, fitnah, sadis dan cabul. Kalau dalam bahasa kekinian, berita tidak boleh hoax.
  • Harus menerapkan asas praduga tidak bersalah kepada siapapun figur yang diberitakan, tidak mencampurkan antara opini dan fakta atau kenyataan
  • Tidak menyebutkan identitas korban ejahatan dan kesusilaan dan tidak menyebutkan anak di bawah umur yang menjadi pelaku kejahatan
  • Tidak menyalahgunakan profesinya, apalagi menerima suap untuk pemberitaan tertentu yang menguntungkan pihak tertentu
  • Memiliki hak tolak untuk menyebutkan identitas narasumber sesuai kespakatan
  • Tidak memberitakan atau menuliskan berita berdasarkan prasangka ras yang akan menjauhkan upaya menjaga keutuhan NKRI
  • Menghormati narasumber atas kehidupan pribadi yang dimilikinya
  • Harus segera mencabut apabila berita yang disampiakan keliru atau salah dan disertai dengan permintaan maaf.
  • Melayani hak jawab dan hak koreksi secara proposional atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Artikel kali ini akan membahas beberapa tokoh pers inspiratif mulai dari zaman kolonial hingga sekarang.

  1. Tirto Adhi Soerjo

Pers Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Kolonial Belanda dengan surat kabar-surat kabar yang tentu saja berbahasa Belanda. Otomatis pada saat itu pers digunakan sebagai sarana propaganda Belanda di negara jajahannya. Awalnya hampir dapat dikatakan tidak ada pers atau surat kabar berbahasa Melayu atau Indonesia.
Tirto Adhi Soerjo adalah perintis, atau orang yang pertama kali mendirikan surat kabar berbahasa Melayu.

Surat kabar yang didirikan di Bandung dengan nama Medna Prijaji, 1 Januari 1907. Masa di mana organisasi atau pergerakan kebangsaan mulai tumbuh benih-benihya di beberapa wilayah Indonesia. Medan Prijaji juga menerbitkan berita-berita yang membangkitkan nasionalisme dan meningkatkan harga diri masyarakat Indonesia yang pada saat itu dinomorduakan oleh Belanda.

  1. Rosihan Anwar

Rosihan Anwar disebut sebagai wartawan segala zaman. Beliau mulai berkarir sebagai wartawan mulai dari zaman kolonial Belanda, zaman kemerdekaan, orde lama, orde baru, hingga zaman reformasi. Jasanya untuk Indonesia tidak dapat dihitung, khususnya bagi pers nasional. Hidupnya didedikasikan untuk itu. Tutup usia pada tanggal 14 April 2011, Rosihan Anwar sudah menerbitkan 21 buku dan ribuan artikel semasa hidupnya. Pada tahun 2005 beliau pernah mendapatkan Anugerah Kesetiaan Berkarya sebagai Wartawan dari Pemerintah Indonesia.

  1. Goenawan Mohammad

Goenawan Mohammad adalah tokoh pers yang terkenal tanpa rasa takut. Beliau benar-benar mendudukkan sesuai fungsinya. Pendiri Majalah tempo ini telah berkecimpung di dunia kewartawanan selama lebih dari 30 tahun. Semasa pemerintahan Orde Baru, majalah Tempo miliknya pernah ditutup oleh pemerintah karena dianggap memberitakan atau menjelek-jelekkan keluarga Presiden saat itu. Masa di mana hubungan suprastruktur dan infrastruktur politik tidak berjalan harmonis.  Sampai kini, Goenwawan Mohammad telah menulis banyak berita. Yang paling terkenal dan diingat masyarakat adalah Catatan Pinggir di Majalah Tempo yang terbit seminggu sekali.

  1. Roehana Koeddoes

Roehana Koeddoes adalah perempuan pejuang yang lahir sezaman dengan R.A Kartini namun tidak seterkenal Kartini. Namun, di dunia pers beliau dianggap sebagai tokoh perempuan pertama yang bergerak di bidang ini dengan pendidikan terbatas. Beliau belajar dengan otodidak mengenai dunia yang kemudian digelutinya.
Terlahir di Sumatera Barat pada tahun 1884, Roehana kemudian menjadi pemimpin redaksi beberapa surat kabar Melayu seperti Sunting Melayu, Perempuan Bergerak, dan Radio dan Cahaya di awal tahun 1900-an. Beliau hidup sampai tahun 1972 dan sempat melihat Idnonesia yang diperjuangkannya merdeka. Pada tahun 2007 Roehana Koeddoes mendapat bintang Jasa Utama dari pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya.

  1. S.K.Trimurti

Surastri Karma Trimurti atau sering disebut dengan Trimurti banyak orang mengir sebagai sosok laki-laki. Perempuan ekleahiran tahun 1912 ini menggunakan nama samaran Karma atau Trimurti di media untuk menghindari konflik dengan Belanda. Namun, tetap saja beberapa kali kiprahnya membawa ke penjara.
Trimurti adalah isteri dari Sayuti Melik yang terkenal sebagai pengetik naskah Proklamasi Indonesia. Mereka berdua kemudian mendirikan dan mengelola surat kabar Pesat. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri tenaga Kerja di masa pemerintahan Soekarno dan tutup usia pada tahun 2008.

  1. Herawati Diah

Herawati merupakan jurnalis perempuan pertama Indonesia yang terdidik. Herawati lulus dari jurusan Sosiologi Barnard College, Amerika Serikat tahun 1941. Pertama kali bekerja sebagai wartawan lepas di United Press International. Setelah menikah dengan B.M Diah, mereka mendirikan surat kabar pertama Indonesia berbahasa Inggris, The Indonesian Observer. Terbit pertama kali tahun 1955 dengan berita tentang Konfrensi Asia Afrika.
Herawati Diah meninggal dalam usia 99 tahun, 30 September 2016. Tahun berikutnya beliau mendapat Anugerah Lifetime Achivement Award dari Persatuan Wartawan Indonesia karena keaktiofannya di dunia pers.

Tentu saja dalam perkembangannya masih banyak lagi tokoh pers Indonesia yang menginspirasi, di antaranya:

  1. Marcokatodikromo
  2. Djamaludin Adinegoro
  3. Sam Ratulangi
  4. Andi F.Noya
  5. Najwa Shihab
  6. Rosiana Silalahi
  7. Adam Malik
  8. Ira Koesno
  9. Andi Abdul Muis
  10. dan lain-lain

Semua tokoh pers merupakan pejuang rakyat yang menyerukan kebenaran. Kebenaran yang terkadang disembunyikan dengan berbagai resikonya. Beberapa di antara tokoh pers dianggap sebagai pahlawan nasional Indonesia, seperti Sayuti Melik dan Adam Malik. Pejuang dan pahlawan nasional yang mungkin namanya tidak terkenal. Namun tidak berarti perjuangan tersebut tidak dihargai. Generasi penerus harus menghargainya dengan cara menghjidupkan pers yang bijak dan kondusif. Khususnya berkaitan dengan media sosial. Demikian 15 tokoh pers nasional Indonesia. Semoga menginspirasi dan bermanfaat.

, ,
Post Date: Monday 16th, April 2018 / 04:15 Oleh :
Kategori : Politik