5 Proses Terbentuknya Masyarakat Berdasarkan Pendekatan Interaksi Sosial

Pendekatan secara interaksi sosial merupakan salah satu proses yang bisa digunakan untuk membentuk suatu masyarakat dalam kehidupan bersosial. Interaksi sosial dapat didefinisikan sebagai hubungan sosial yang sejalan, sinergis ataupun dinamis. Hubungan sosial tersebut seperti hubungan antara satu individu dengan individu lainnya, satu individu dengan sebuah kelompok maupun suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Yang mana pada hubungan sosial ini terdapat hubungan timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.

Pentingnya interaksi sosial

Intinya, interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, yang artinya kehidupan bersama hanya bisa diwujudkan dengan adanya interaksi sosial untuk menghindari penyebab terjadinya tindakan penyalahgunaan kewenangan. Tanpa itu, maka kehidupan bersama tidak akan pernah ada.Pembentukan masyarakat dengan interaksi sosial tentunya akan dipengaruhi faktor-faktor yang mengindikasikan berhasil atau tidaknya proses interaksi sosial yang dilakukan. Apabila interaksi sosial yang dilakukan berhasil, maka pembentukan masyarakat pun juga akan berhasil dan begitu juga sebaliknya.

Adapun beberapa faktor proses terbentuknya masyarakat berdasarkan pendekatan interaksi sosial diantaranya adalah sebagai berikut :

1. The Nature of The Social Situation

The Nature of The Social Situation yaitu memberikan perilaku atau interaksi sosial kepada suatu individu sesuai dengan situasi individu tersebut. Dalam artian, interaksi yang kita berikan ketika dia sedang sedih atau berduka cita, berbeda dengan ketika dia sedang senang atau bersuka cita.

2. The Norms Prevailing in Any Given Social Group 

The Norms Prevailing in Any Given Social Group yaitu kekuasaan norma-norma kelompok yang memiliki pengaruh terhadap terjadinya interaksi sosial antar individu. Contoh kongkritnya ialah kita (sebagai individu) dalam suatu masyarakat mau menaati norma-norma yang berlaku di dalamnya sehingga tidak menimbulkan kekacauan atau perselisihan seperti menjadi penyebab tawuran di masyarakat.

3. Their Own Personality Trends

Their Own Personality Trends yaitu setiap individu memiliki suatu tujuan yang nantinya akan berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Sebagai contoh ialah interaksi seorang murid dengan gurunya yang bertujuan untuk menimba ilmu pengetahuan di sekolah untuk mencapai cita-citanya kelak seperti fungsi guru BK di sekolah yang wajib membimbing muridnya sampai tamat sekolah.

4. A Person’s Transitory Tendencies

A Person’s Transitory Tendencies yaitu setiap individu melakukan interaksi menyesuaikan dengan kedudukan dan kondisinya yang bersifat sementara. Maksudnya kedudukan tersebut hanya akan bersifat sementara. Contohnya interaksi yang kita lakukan terhadap para tokoh-tokoh yang ada dalam masyarakat yang kita tinggali seperti ketua RT atau RW setempat.

5. The Process of Perceiving And Interpreting a Situation

The Process of Perceiving And Interpreting a Situation yaitu memiliki penafsiran terhadap situasi. Maksudnya adalah setiap individu memahami arti dari setiap situasinya yang berpengaruh bagi individu tersebut untuk melihat dan menafsirkan situasi tersebut. Contohnya apabila teman kita sedang marah, maka hal yang kita lakukan bukanlah mengkomporinya maupun menertawakannya agar semakin marah, namun bisa dengan cara menghindar ataupun meredakan amarahnya.

 Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Setelah mengetahui akan faktor-faktornya, langkah selanjutnya adalah mengetahui dan memahami macam, ciri, dan syarat yang harus terpenuhi dalam interaksi sosial sehingga proses pembentukan masyarakat akan terjadi. Apabila ketiga komponen ini sudah terpenuhi dan dipahami sehingga bisa diterapkan, maka proses pembentukan masyarakat akan bisa dilakukan.

Berikut adalah syarat-syarat terjadinya interaksi sosial :

a. Syarat-Syarat Interaksi Sosial

Sedangkan syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam suatu interaksi sosial, yang juga menurut Tim Sosiologi (2002) terdapat dua syarat antara lain:

  • Kontak sosial. Kontak sosial merupakan proses awal dalam terjadinya interaksi sosial. Di mana pihak-pihak yang terlibat melakukan aksi dan reaksi antar satu sama lainnya baik secara fisik (saling bertemu) maupun non fisik (melalui media komunikasi) dan juga orang tua memiliki peran orang tua dalam mendidik anak
  • Komunikasi. Maksudnya adalah menjalin pergaulan atau hubungan dengan orang lain. Sehingga terjalin suatu koneksi dalam interaksi sosial yang sinergis (sejalan) dan dinamis, baik antar individu dan individu, individu dan kelompok maupun kelompok dan kelompok.

b. Ciri-Ciri Interaksi Sosial

Ciri-ciri dari interaksi sosial menurut Tim Sosiologi (2002) terdapat empat macam antara lain:

  • Pelaku interaksi sosial tidak hanya satu orang saja. Dalam artian, minimal terdapat dua individu yang melakukannya sehingga dapat digolongkan dalam macam-macam interaksi sosial individu dan individu lainnya
  • Komunikasi yang terjadi antar pelaku interaksi sosial melalui kontak sosial. Misalkan melalui suatu pertemuan, perkumpulan, dan lainnya.
  • Memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Dalam artian, interaksi yang dilakukan memiliki sebuah tujuan seperti seorang pedagang dengan pembelinya yang bertujuan untuk sama-sama memenuhi kebutuhannya masing-masing.
  • Dilaksanakan dengan sebuah pola atau sistem sosial tertentu.

c. Macam-Macam Interaksi Sosial

Menurut kedua pakar sosiologi, yaitu Maryati dan Suryawati (2003) terdapat tiga macam interaksi sosial antara lain:

  • Interaksi sosial antara individu dan individu lainnya.
  • Interaksi sosial antara individu dan kelompok.
  • Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok lainnya.

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

Adapun bentuk-bentuk atau cara-cara interaksi sosial yang dapat dilakukan sebagai upaya pembentukan masyarakat, yang dikategorikan menjadi dua bentuk oleh Tim Sosiologi (2002), yaitu:

1. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif,

Interaksi sosial yang bersifat asosiatif  yaitu bentuk interaksi sosial yang mengarah kepada bentuk-bentuk hubungan (asosiasi), seperti:

  • Bentuk hubungan (asosiasi) yang merupakan suatu usaha bersama antara individu atau kelompok untuk mencapai dan mewujudkan tujuan bersama.
  • Bentuk hubungan (asosiasi) yang merupakan suatu proses sosial yang muncul apabila terdapat kelompok masyarakat dengan latar belakang yang berbeda yang saling berinteraksi sehingga nantinya menghasilkan kebudayaan campuran dalam jangka waktu tertentu karena pengaruh oleh globalisasi yang ada.
  • Bentuk hubungan (asosiasi) yang merupakan suatu proses sosial yang muncul apabila terdapat kelompok masyarakat dengan suatu kebudayaan dihadapkan pada unsur-unsur kebudayaan asing sehingga kebudayaan asing tersebut dapat diterima dan menjadi kebudayaan sendiri dalam jangka waktu tertentu seperti contoh politik luar negeri Indonesia yang saling melakukan kerjasama agar diterima di Indonesia maupun luar negeri.

2. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif

Interaksi sosial yang bersifat disosiatif yaitu bentuk interaksi sosial yang mengarah kepada bentuk-bentuk konfik atau pertentangan, seperti:

  • Bentuk pertentangan yang merupakan suatu usaha atau perjuangan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mendapatkan kemenangan secara kompetitif (melalaui kompetisi) tanpa adanya adu fisik yang merugikan lawannya.
  • Bentuk pertentangan yang merupakan suatu proses sosial antara individu atau kelompok disebabkan adanya perbedaan akan pemahaman dan kepentingan yang mendasar sampai menimbulkan jarak (gap) yang bisa merusak interaksi sosial antar pihak yang terlibat di dalamnya dan bisa menjadi penyebab terciptanya masyarakat majemuk dan multikultural.
  • Bentuk pertentangan yang merupakan suatu proses sosial yang posisi berada diantara persaingan dan konflik, seperti sikap tidak senang terhadap individu atau kelompok secara tersembunyi maupun terang-terangan. Namun tidak sampai menciptakan sebuah konflik.
, ,




Oleh :
Kategori : Moral