8 Tokoh dan Susunan Partai Garuda Secara Jelas dan Paling Lengkap

Pemilu 2019 sudah di ambang pintu. Pesta rakyat atau pesta demokrasi yang diadakan 5 tahun sekali ini sudah mulai terasa gaungnya. Jenis-jenis pemilu yang berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Kali ini, pemilihan umum sekaligus melakukan 5 hal dalam satu waktu. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, pemilihan anggota DPR RI, Pemilihan anggota DPRD 1 atau DPRD Propinsi, pemilihan anggota DPRD II atau DPRD Kota / Kabupaten, dan pemilihan anggota DPD. Kesemuanya berkaitan dengan partai politik.

Partai politik yang merupakan bagian dari contoh infrastruktur politik, menjadi tokoh utama dalam pemilu. Kecuali ketika upaya pemerintahan orde baru untuk mempertahankan kekuasaannya, pada masa pelaksanaan demokrasi orde lama dan reformasi partai politik berganti-ganti dan cukup banyak pilihan. Hal ini berkaitan dengan fungsi partai politik itu sendiri dan aturan tentang sistem pemilu di Indonesia yang terus diperbaiki dari tahun ke tahun agar lebih aspiratif.

Untuk pemilu 2019, Komisi Pemilihan Umum Pusat sebagai lembaga penyelenggara pemilu telah mengumumkan partai mana saja yang akan menjadi peserta. Pada tanggal 18 Febuari 2018 diumumkan pemilu kali ini akan diikuti 14 peserta. Peserta pemilu tersebut, yaitu ;

  1. Partai Demokrat
  2. Partai Amanat Nasional (PAN)
  3. Partai Berkarya
  4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)
  5. Gerindra
  6. Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda)
  7. Partai Golongan Karya (Golkar)
  8. Partai Amanat Hati Nurani Rakyat (Hanura)
  9. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
  10. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
  11. Partai Nasional Demokrat
  12. Partai Persatuan Indonesia
  13. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
  14. Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Dari keempat belas partai tersebut, empat di antaranya adalah partai baru. Yang termasuk partai baru, yaitu PSI, Partai Berkarya, Partai Persatuan Indonesia, dan Partai Garuda. Dan artikel kali ini akan membahas tentang Tokoh dan susunan pengurus Partai Garuda .

Sejarah Berdirinya Partai Garuda

Sebenarnya Partai Garuda merupakan kelanjutan sebuah partai yang ada sejak tahun 2007 dan diubah namanya.  Partai tersebut adalah Partai Kerakyatan Nasional yang berdiri di Jakarta pada tanggal 30 November 2007.  Partai  yang didirikan Harmoko, seorang tokoh pemerintahan Zaman Orde Baru yang pernah menjadi Menteri Penerangan tahun 1997 sampai 1999 ini menargetkan pemilu tahun 2009.  Namun apa daya partai ini tidak lolos verifikasi pada tanggal 30 Mei 2008 dari KPU.  Partai kemudian tidak dapat melanjutkan kiprahnya, meskipun sudah disahkan oleh Kemenhumkan.

Dari partai yang tidak berkembang kemudian dibuatlah Partai Gerakan Perubahan Indonesia.  Seperti sebuah partai baru karena namanya baru.  Namun, Partai yang kemudian disingkat menjadi Partai Garuda menegaskan bahwa mereka tidak mempunyai hubungan dengan Partai Kerakyatan Naional.  Harmoko sendiri sebagai pendiri Partai Kerakyatan Nasional sudah tidak mau lagi terlibat aktif dengan kegiatan politik Indonesia.

Partai Garuda didirikan  tahun 2015 setelah selama beberapa tahun tokohnya, Ahmad Ridha Sababan merenungkan perencanaannya.  Partai disahkan oleh Kemenhumkan pada bulan September 2015 dengan kantor pusat Gedung Senaman, Jl Kwitang Raya Nomor 8, Kwiotang, Jakarta Pusat.  Karena mereka sudah lolos verifikasi KPU, meski melalui proses pengadilan naik banding, cabangnya di seluruh daerah sudah banyak dan memenuhi syarat minimal cabang dan pengurus.

Partai mempunyai logo gambar burung dengan warna emas dan berlatar belakang merah. Di mana warna merah melambangkan semangat dan keberanian. Secara filosofis, lambang atau logo partai menggambarkan komponen negara yang dinamis. Komponen tersebut adalah seluruh anggota dan simpatisan partai, di mana mereka mempunyai tujuan perubahan Indonesia yang menjadi keharusan dan keniscayaan.  Bukan sekedar pembangunan infrastruktur yang membanggakan, tetapi lebih kepada tujuan pembangunan nasional.  Sesuai dengan cita-cita Bangsa Indonesia pada pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945.


Tokoh Partai Garuda

Parai Garuda disebut juga sebagai partai Millenias.  Ini disebabkan parai ini terdiri dari tokoh-tokoh muda di DPP hingga cabangnya kecuali Ketua Umum Partai dan Sekjen partai.  Usia rata-rata anggota dan pengurus adalah 35 tahun.  Bahkan dari info yang diperoleh, ada pengurus daerah yang berusia 19 tahun.    Mereka juga bukan tokoh besar atau terkenal.

Meski demikian, Partai Garuda optimis akan emndapatkan suara sekitar 8% di pemilu 2019.  Karena mereka, anak muda adalah simbol kedinamisan dan kreativitas.  Di tangan mereka akan menghasilkan berbagai pembaharuan kelak.

Di balik Partai Garuda sendiri hanya dikenal dua tokoh besar, yaitu Ketua Partai dan Sekjen Partai.  Mengenai kedua tokoh tersebut akan kita uraikan sedikit di bawah ini.

  1. Ahmad Ridha Sabana

Ahmad ridha Sabana adalah tokoh pendiri partai Garuda. Dia merupakan tokoh  yang paling dikenal dibandingkan tokoh lain dalam partai yang sebagian besar anak muda yang baru terjun di kancah poliitk Indonesia. Sebelumnya Ahmad Ridha Sabana pernah emnjadi direktur PT Citra Televisi Pendidikan Indonesia, sampai pada tahun 2014.  Berdasarkan hal tersebut banyak orang menganggap Partai Garuda merupakan perpanjangan dari Keluarga Cendana yang ingin berkuasa kembali.  Seperti halnya Partai Berkarya yang juga lolos verifikasi Pemilu.

Selain hal di atas, Ahmad Ridha Sabana pernah aktif di Komite aNasional pemuda Indonesia (KNIP)_  Bahkan Ahmad Sabana pernah mencalonkan diri menjadi Ketua  KNPI periode 2011 sampai 2014.  Ini menegaskan isu kedekatan partai dengan Keluarga Cendana. Ahmad Ridha Sabana adalah Putera dari seorang ulama KAlimanta Selatan yang terkenal bernama Amidhan Saberas.  Di pemilu tahun 2014, pernah menjadi caleg atau calon anggota legislatif dari Partai Gerindra, daerah pemilihan Jakarta dengan nomor urut 2.  Namun, di tahun itu Ahmad Sabana gagal mendapatkan kursi.

Hubungannya dengan Partai Gerindra dihubungkan pula dengan keberadaan Kakaknya, Ahmad Riza Sabana, yang merupakan politikus partai yang mengajukan Prabowo sebagai Presidennya. Semua isu yang menyatakan keterkaitan partai dengan Harmoko (orang Orde Baru), Keluarga Cendana, Partai Komunis Indonesia, dan Partai Gerindra dibantah.  Semuanya hanya keterkaitan pribadi. Secara politis dinyatakan bahwa Partai Garuda berdiri sendiri. Karena pada dasarnya setiap orang pasti mempunyai keterkaitan pribadi dengan orang lain.

Menurut Ahmad Ridha Sabana, bahkan partai belum memutuskan siapa Presiden dan Wakil Presiden yang akan didukungnya.  Partai masih berfokus pada pengembangan visi dan misi serta pengembangannya di berbagai wilayah.

  1. Abdullah Mansuri

Selain Ahmad Ridha Sababan, Abdullah Mansuri menjadi tokoh lain dibalik berdirinya Partai Garuda. Abdullah Mansuri adalah Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI).  Tidak banyak orang mnegetahui organisasi ini, namun di kalangan nasional IKAPPI cukup diperhitungkan.  Sebuah organisasi yang  mempunyai tujuan meningkatkan kesejahteraan, harkat, dan martabat seluruh pedagang kecil yang ada di Indonesia.

Abdullah Mansuri termasuk dekat dengan santri.  Ini tentu saja berkaitan erat dengan posisi Ketua Umum yang merupakan putera ulama besar di Kalimantan Selatan. Seperti halnya Ahmad Ridha Sabana, Sekjen Partai Garuda juga sudah menegaskan bahwa logo mereka yang merah tidak ada hubungan sama sekali dengan Partai Komunis Indonesia.  Sementara kedekatan pribadi dengan partai lain belum tentu menyiratkan hubungan partai dengan para tokoh tersebut.

Susunan Pengurus Partai Garuda

Tidak banyak orang mengetahui pengurus Partai Garuda.  Di berbagai media cetak dan elektronik, termasuk di sosial media, hanya dicantumkan Ketua Umum Partai Garuda dan Sekjen Partai Garuda.  Partai ini mempunyai kesan tertutup. Ketua dan Sekjen sendiri menegaskan bahwa bukan karena partai ini cenderung tertutup, tetapi memang dalam susunan pengurus tidak ada nama-nama atau tokoh-tokoh besar. Tidak ada publikasi agar mereka semua fokus bekerja.

Di dalam pengurus partai terdiri dari sebagian besar anak muda dengan kisaran usia maksimal hingga 35 tahun, kecuali Ahmad Sabana dan Abdullah Mansuri.  Itu sebabnya partai ini disebut partai Millenialis.  Ahmad sabana menyebutnya sebagai partai minimalis, karena didirikan tidak dengan tokoh dan mana besar, juga tidak dengan biaya besar.  Kantor pusat Partai Garuda juga nampak sederhana.  Semua peralatan didapat dengan cara sawasembada anggota.  Tidak ada donasi di belakang mereka. Semua berasal dari anggota secara sukarela.

Susunan pengurus Partai Garuda secara umum adalah sebagai berikut:


  1. Ketua : Ahmad Ridha Sabana
  2. Sekjen : Abdullah Anshori
  3. DPP  (Dewan Pimpinan Pusat) terdiri dari 11 orang
  4. DPD(Dewan Pimpinan Daerah / Propinsi)  teridir dari 9 anggota
  5. DPC (Dewan Pimpinan Cabang) terdiri dari 5 sampai 7 anggota
  6. PAC  yang merupakan pengurus di tingkat paling bawah partai ini terdiri dari 3 sampai 5 anggota.

Dengan sedikitnya jumlah anggota, diharapkan partai ini lebih mudah koordinasi dan membimbing semua anggotanya yang baru terjun di dunia politik degan semangat membara. Sedikitnya anggota juga diharapkan dapat memberiefektivitas dan kerja yang luar biasa. Menurut Ketua Umum partai, efektivitas partai ini akan membuktikan bahwa partai tidak memerlukan nama besar seorang tokoh dan uang yang melimpah untuk berkembang. Selama visi misi jelas dan dapat menjawab kebutuhan rakyat, maka optimis kepercayaan rakyat akan didapat. Demikian sekilas tentang tokoh dan susunan Partai Garuda. Sebuah contoh partai politik yang tergolong baru namun berani langsung berkiprah dalam pembangunan bangsa.

Artikel ini dimaksudkan untuk menambah wawasan kita tentang partai yang ada di Indonesia, khususnya partai yang masih tergolong baru.  Dibuat dengan senetral mungkin dengan memasukkan berbagai informasi dari sumber yang ada untuk mengajak semua pembaca agar lebih objektif untuk menilai.  Tidak sekedar terpengaruh oleh opini-opini pribadi atau golongan yang berada di banyak media sosial. Semoga pemlihan umum 2019 menjadi pemilihan umum menggunakan asas-asas pemilu yang paling demokratis.   Di mana kita sebagai warga negara yang baik selalu berupaya menjaga keutuhan NKRI.  Jangan sampai suku, agama, ras, dan golongan memecah belah kita.  fanatisme terhadap sesuatu boleh saja.  Namun tidak dengan mengejek kelompok lain yang kemudian menimbulkan permusuhan. Contoh integrasi nasional yang telah terlaksana sejak di keluarga hendaknya membuat kita semakin bersatu.  Salam merdeka!

, , , , ,




Post Date: Wednesday 12th, September 2018 / 07:15 Oleh :
Kategori : Politik