Penyebab Utang Luar Negeri di Indonesia

Utang luar negeri bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi Indonesia selaku Negara yang masih dalam tahap berkembang. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap masa pemerintahan Presiden Ir. Soekarno hingga saat ini, Presiden Joko Widodo, Indonesia masih belum lepas dari riwayat utang luar negeri. Setidaknya memang ada dua alasan mengapa Indonesia, dalam hal ini pihak pemerintah, harus melakukan utang luar negeri, yaitu:

  1. Utang luar negeri memang dibutuhkan Indonesia sebagai tambahan modal Negara yang menyangkut dengan pembangunan prasarana fisik. Sebagaimana telah diketahui bahwa infrastruktur merupakan investasi yang mahal dalam sebuah pembangunan, terlebih pembangunan yang dilakukan dalam tingkat Negara.
  2. Utang luar negeri dapat digunakan sebagai penyeimbang neraca pembayaran Negara. Tentunya dalam hal ini pemerintah memang berusaha untuk melakukan penyeimbangan pada neraca pembayaran Negara Indonesia sendiri.

Namun terlepas dari dua alasan tersebut, sebenarnya ada beberapa alasan lainnya yang menjadi penyebab utang luar negeri  yang dilakukan Indonesia antara lain:

1. Defisit Transaksi Berjalan (TB)

Transaksi Berjalan (TB) merupakan perbandingan antara jumlah pembayaran yang diterima dari luar negeri dengan jumlah pembayaran yang dikeluarkan ke luar negeri. Artinya, operasi total perdagangan luar negeri, neraca perdagangan, dan keseimbangan antara ekspor dan impor, serta pembayaran transfer.

Dalam hal ini defisit yang semakin meningkat akan menjadi penyebab semakin meningkatnya atau bertambahnya utang luar negeri, termasuk Indonesia. Dengan kata lain, pengeluaran yang dikeluarkan oleh Negara lebih besar daripada pemasukan yang diterima oleh Negara sendiri. Sedemikian sehingga defisit antara pengeluaran dan pemasukan semakin besar dan salah satu solusi untuk bisa menutupi defisit tersebut ialah dengan melakukan utang luar negeri.

2. Meningkatnya Kebutuhan Investasi

Investasi merupakan penanaman modal yang dilakukan untuk satu atau lebih aktivitas yang dimiliki oleh Negara, di mana biasanya memiliki jangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan pada masa yang akan datang. Kasus yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya pun hampir serupa, yaitu kekurangan dana untuk melakukan investasi tersebut. Padahal hampir setiap tahun pula kebutuhan investasi semakin meningkat. Sedemikian sehingga dengan semakin meningkatnya kebutuhan investasi sedangkan modal investasinya tidak dimiliki, maka akan memicu Negara untuk melakukan utang luar negeri. Dengan kata lain, kekurangan modal dengan kebutuhan investasi yang semakin meningkat tiap tahunnya akan menyebabkan utang luar negeri semakin meningkat pula. Selain kebengkakan dana yang dibutuhkan, utang luar negeri yang meningkat juga disebabkan dengan berbedanya tingkat suku bunga yang diterapkan oleh masing-masing Negara lain selaku pemberi pinjaman.

3. Meningkatnya Inflasi

Inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum, di mana hal tersebut secara terus-menerus memiliki kaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Yang mana, laju inflasi mempengaruhi tingkat suku bunga nominal. Kasus yang terjadi di Indonesia ialah trand inflasi yang meningkat sehingga memaksa Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga. Sedemikian sehingga dengan rendahnya suku bunga, maka minat orang ataupun Negara lain untuk melakukan investasi di Indonesia semakin rendah pula. Dengan keadaan tersebutlah, maka pemerintah mengambil tindakan untuk memenuhi belanja Negaranya melalui utang luar negeri.

4. Struktur Perekonomian Tidak Efisien

Struktur perekonomian yang tidak efisien, dalam hal ini di Indonesia, tampak dari tidak efisiennya pemakaian modal yang dikeluarkan sehingga memerlukan investasi besar. Hal inilah yang kemudian akan mendorong pemerintah mengambil tindakan utang luar negeri untuk memenuhi investasi besar tersebut akibat pemakaian modal yang tidak efisien.

Dampak Penyebab Utang Luar Negeri

Dari penyebab-penyebab yang dapat mendorong Indonesia melakukan utang luar negeri tersebut, maka sebenarnya akan diperoleh dampaknya. Tentunya dampak di sini tidak selalu negatif, tetapi juga ada dampak positifnya sehingga memberikan manfaat atau peranan tersendiri bagi Indonesia yang sifatnya menguntungkan.

Berikut beberapa dampak negatif dari utang luar negeri serta dampak positif dari utang luar negeri sehingga memberikan manfaat atau peranan tersendiri yang menguntungkan bagi Indonesia, antara lain:


Dampak Negatif (Resiko)

Adapun dampak negatif dari utang luar negeri yang dilakukan oleh Negara, antara lain:

  1. Bantuan utang luar negeri justru akan memperlambat pertumbuhan yang erat kaitannya dengan adanya substitusi terhadap investasi dan tabungan luar negeri, serta membesarnya defisit neraca pembayaran Negara. Apalagi jika mengingat bahwa Indonesia masih termasuk Negara berkembang yang memang memerlukan banyak modal.
  2. Memperlebar kesenjangan standar hidup masyarakat antara orang yang kaya dengan orang yang miskin di Negara dunia ketiga (Negara berkembang), seperti Indonesia. Yang mana, orang yang kaya semakin kaya dan gelamor, sedangkan orang yang miskin semakin miskin dan terpuruk kualitas ekonomi hidupnya.
  3. Menghambat pertumbuhan dengan semakin terkurasnya tabungan Negara dan buruknya pendapatan yang diperoleh Negara sendiri.
  4. Memperlebar kesenjangan tabungan dan devisa Negara yang ada, serta menciptakan kesenjangan lainnya, seperti kesenjangan antara kota dan desa yang biasanya tampak dengan berbedanya laju pembangunan atau kesenjangan antara sector modern dan tradisional.
  5. Menciptakan kaum birokrat yang korup, mematikan inisiatif, dan menciptakan mental pengemis bagi Negara penerimanya. Sebagaimana telah terbukti di Indonesia sendiri, di mana banyak sekali pihak-pihak atau individu yang melakukan korupsi. Bahkan tidak di kalangan pemerintah saja, namun sudah menjalar ke kalangan masyarakat umum dan juga banyaknya pengemis di kalangan masyarakat bawah. (baca : penyebab korupsi)
  6. Resiko kesinambungan fiskal, di mana utang yang besar biasanya berpotensi untuk membahayakan kesinambungan anggaran pemerintah dalam mengelola Negara.
  7. Resiko nilai tukar, di mana resiko nilai mata uang yang juga berubah-ubah setiap waktu berpotensi untuk memberikan tambahan beban pembayaran terhadap utang luar negeri yang dilakukan. Apalagi bila nilai tukar rupiah sedang menurun.
  8. Resiko perubahan tingkat bunga, di mana tingkat bunga yang semakin tinggi akan semakin memberatkan Negara peminjam. Sedemikian sehingga biaya pembayaran hutang akan semakin tinggi.
  9. Resiko pembiayaan kembali (refinancing), di mana volume utang Negara yang sudah jatuh tempo harus dilunasi. Sedemikiam sehingga volume yang cukup besar dapat mengakibatkan timbulnya resiko berupa lebih tingginya biaya dari peminjaman baru yang akan dilakukan.
  10. Resiko operasional, di mana pengelolaan utang luar negeri memiliki resiko kegagalan jika operasional pengelolaannya sehari-hari tidak dilakukan dengan baik. Entah dari sisi sumber daya manusianya maupun dari sisi sumber daya kelembagaannya, seperti system informasi manajemen, kelengkapan prosedur operasi baku (SOP), dan lain-lain.

Dampak Positif (Manfaat)

Adapun dampak positif dari utang luar negeri yang dilakukan oleh Negara, antara lain:

1. Pembangunan Infrastruktur Bagi Negara Berkembang – Kebanyakan masyarakat memang memandang negatif utang luar negeri, meski sebenarnya pandangan tersebut memang beralasan karena terlalu banyaknya hutang yang ditanggung oleh Negara, yaitu Indonesia, kepada Negara lain di luar negeri. Namun terlepas dari itu semua, utang luar negeri juga memberikan manfaat bagi Indonesia untuk melakukan pembangunan infrastruktur Negara, seperti pembangunan jalan (meliputi jalan tol, jalan laying maupun perbaikan jalan di desa-desa) dan pembangunan kota serta desa.

2. Menutupi Kekurangan Anggaran – Utang luar negeri juga memberikan manfaat untuk menutupi kekurangan anggaran yang disebabkan oleh neraca pembayaran Negara yang tidak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran. Yang mana, kasus di Indonesia hampir setiap tahunnya mengalami pembengkakan pengeluaran belanja Negara daripada pemasukan yang diterima oleh Negara sendiri. Termasuk dalam hal memenuhi anggaran untuk modal investasi yang dilakukan oleh Negara.  (baca : fungsi APBN)


3. Utang Luar Negeri Sama Halnya Dengan Modal Pembangunan – Utang luar negeri yang dilakukan dapat dipakai sebagai modal unruk melakukan pembangunan Negara. Termasuk Indonesia sendiri yang sampai saat ini masih terus berusaha untuk melakukan pemerataan pembangunan, baik di kota dan di desa yang masih berlangsung timpang atau tidak seimbang.

4. Menjalin Hubungan Bilateral – Utang luar negeri yang dilakukan akan mempererat hubungan bilateral antara Indonesia (sebagai pihak peminjam) dengan Negara lain (sebagai pihak pemberi pinjaman). Hal ini akan sangat berdampak baik, mengingat di zaman modern seperti sekarang ini, hampir setiap Negara saling bergantung satu sama lainnya untuk memajukan kesejahteraan rakyatnya masing-masing.

5. Bentuk Pengakuan Negara Lain – Utang luar negeri yang dilakukan, dalam artian mendapatkan pinjaman luar negeri dari Negara lain bukanlah hal yang mudah. Pihak Negara peminjam harus mampu meyakinkan pihak Negara pemberi pinjaman bahwa kita sebagai Negara peminjam, dalam hal ini Indonesia, mempunyai sumber daya yang mampu untuk dikembangkan dan mengembalikan pinjaman yang sudah barang tentu disertai dengan suku bunganya. Sedemikian sehingga apabila kesepakatam tercapai, maka akan mengindikasikan bahwa Negara pemberi pinjaman mengakui Indonesia sebagai Negara berkembang yang akan terus tumbuh dari waktu ke waktu.

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , , ,
Post Date: Tuesday 09th, February 2016 / 05:22 Oleh :
Kategori : Pemerintahan