28 Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia dan Dunia

Sebelum membahas mengenai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai dasar hukum HAM itu sendiri. Para ahli menuturkan secara definisi HAM  “HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki setiap pribadi manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir.” Dari definisi tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa setiap manusia yang terlahir di muka bumi memiliki hak dasar yang sama. Selama peradaban manusia, banyak terjadi perampasan hak-hak yang menjadi hak dasar manusia baik berupa pelanggaran HAM berat seperti genosida dan juga berbagai pelanggaran HAM ringan. Berikut ini merupakan 28 pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia dan Dunia (Baca juga: Fungsi Tanggung Jawab Warga Negara dalam Proses Demokrasi)

1. Peristiwa Pembantaian Suku Indian

Daratan Amerika pada masa lampau dihuni oleh suku asli Indian. Pertama kali orang Eropa datang ke Amerika bersama rombongan kapal yang dipimpin oleh Colombus. Awalnya kedatangan bangsa Eropa ini disambut baik oleh suku Indian. Namun lambat laun, bangsa Eropa ingin menguasai daratan Amerika karena memiliki sumber daya alam yang melimpah. Karena mengetahui keinginan bangsa Eropa untuk menguasai tanah leluhurnya, suku Indian mulai tak suka kepada bangsa Eropa dan mengusir mereka. Menyadari hal tersebut, bangsa Eropa pun melakukan berbagai cara untuk merebut tanah Amerika.  Banyak hal yang dilakukan seperti melakukan pembunuhan keji terhadap suku Indian hingga membawa bibit penyakit yang menyebabkan banyak warga suku Indian tewas.

Suku Indian melakukan berbagai perlawanan untuk mengusir penjajah dan mempertahankan daerah kekuasaannya, namun bangsa Eropa mengerahkan pasukannya dalam jumlah besar untuk melawan pemberontakan tersebut. Bangsa Eropa melakukan pembantaian besar-besaran terhadadap suku asli Indian hingga jumlah mereka berkurang drastis. Banyak diantara suku Indian yang dipaksa pergi setelah mengetahui adanya tambang emas di California. Hal tersebut memicu perang besar-besaran yang menyebabkan banyak warga suku Indian meregang nyawa.

2. Genosida Hitler

Salah satu catatan sejarah yang terkenal mengenai genosida adalah aksi pembantaian yang dilakukan oleh Adolf Hitler terhadap kaum yahudi. Tragedi ini dikenal dengan tragedi Holocaust. Adolf Hitler sebagai seorang pemimpin Jerman , didukung oleh partai Nazi memusnahkan kaum yahudi secara masal. Diperkirakan terdapat enam juta warga yahudi yang menjadi korban dalam kejahatan Adolf Hitler.

Dikabarkan bahwa alasan Adolf Hitler melakukan pembantaian terhadap kaum yahudi adalah keinginan untuk menguasai dunia dimana ras Eropa dianggapnya sebagai ras yang unggul. Bukan hanya Yahudi yang menjadi korban, orang-orang yang tidak disukainya dari beberapa bangsa yang lain juga telah menjadi korban pembantaian. Kekuatan Hitler sangat luar biasa, namun pada tahun 1942 Jerman berhasil dikalahkan dalam pertempuran di El Alamein Mesir dan Stalingrad di Rusia. Setelah kekalahan tersebut, Jerman masih terus melakukan perang. Jerman mengakui kekalahan setelah 7 hari meninggalnya Hitler karena bunuh diri.

3.Pembantaian Nanking

Pembantaian Nanking merupakan salah satu kejahatan genosida yang terjadi di Republik Cina. Menurut pemerintah Cina, terdapat tiga ratus ribu warga Cina yang meninggal dunia dalam peristiwa yang terjadi selama enam minggu tersebut. Peristiwa Nanking dimulai pada tanggal 13 Desember 1937. Pembantaian ini dilakukan oleh serdadu Jepang saat mereka menduduki Cina di masa Perang Dunia II. Banyak warga sipil yang menjadi korban, warga yang tak bersenjata harus meregang nyawa setelah ditangkap dan ditembak menggunakan senjata mesin.

4. Pembantaian Rawagede

Pembantaian di Desa Rawagede, Karawang, Jawa Barat (Saat ini menajdi Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang) terjadi pada 9 Desember 1947. Pasukan Belanda yang dipimpin Mayor Alphons Wijman mencari keberadaan Kapten Lukas Kustario yang merupakan pejuang Republik Indonesia. Pasukan belanda menggeledah rumah warga dan mengumpulkan penduduk laki-laki di tanah lapang. Sementara para perempuan bersembunyi di dalam rumah, para penduduk laki-laki dari desa tersebut dibantai oleh pasukan Belanda karena tak ada satupun yang memberikan informasi mengenai keberadaan Kapten Lukas. Laki-laki yang dieksekusi berumur diatas 14 tahun. Setelah penembakan tersebut, tidak ada laki-laki dewasa di desa itu. Setelah desa itu bersimbah darah dan dibanjiri tangisan, para perempuan bergotong royong menguburkan anggota keluarga yang terbunuh dengan peralatan seadanya. Karena kejadian tersebut, Rawagede yang hanya berisikan wanita dan anak-anak menjadi kampung janda. Lelaki dewasa baru ada di kampung tersebut setelah bertahun-tahun berlalu.

5. Tragedi Trisakti

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, tidak ada kebebasan berpendapat dan segala bentuk protes dilarang. Pada pemilu tahun 1997, golkar kembali memenangkan pemilu dengan total 74% suara. Rakyat menuntuk adanya reformasi dan banyak melakukan demonstrasi baik di jakarta dan juga didaerah lain seperti Medan. Puncak kerusuhan terjadi pada 12 Mei 1998, mahasiswa yang melakukan aksi protes damai ditembak oleh polisi dan tentara.  Karena kejadian ini, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie yang merupakan mahasiswa Trisakti meninggal dunia. Belasan orang lainnya terluka. (Baca juga: Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam UUD- 1945)

6. Gerakan G30S/PKI

Gerakan G30S/PKI terjadi pada tanggal 30 September 1965. Gerakan ini merupakan gerakan yang dilaksanakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berambisi mengganti ideologi pancasila menjadi ideologi komunis. Pada pemberontakan ini, para perwira diculik dan dibunuh secara tragis dan jenasahnya dimasukkan kedalam sumur tua di desa Lubang Buaya yang terletak si sebelah selatan Pangkalan Udara Utama Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Korban tersebut adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R.Soeprapto, Mayor Jenderal Harjono Mas Tridarmo, Mayor Jenderal Suwondo Parman, Brigadir Jenderal D.I Pandjaitan, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomiharjo, dan Letnan Satu Pierre Andreas Tendean.

Artikel lainnya:

7. Penculikan Aktivis pada Tahun 1997/1998

Sebelum pemilu tahun 1997 terdapat beberapa aktivis pro-demokrasi yang diculik. Menurut catatan KONTRAS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), terdapat 23 orang yang hilang. Dari orang-orang yang diculik tersebu, Leonardus Gilang meninggal dunia, terdapat 13 orang yang masih hilang hingga saat ini, dan 9 orang lainnya telah dilepaskan.

8. Petrus

Penembakan misterius atau disebut juga petrus adalah penembakan rahasia yang dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Penculikan dan pembunuhan dilakukan kepada orang-orang yang dianggap sebagai kriminal dan dianggap menggagu kemanan serta ketentraman masyarakat. Tanpa dilaksanakan proses peradilan terlebih dahulu, orang-orang tersebut dieksekusi oleh orang yang tak dikenal dan tak pernah tertangkap siapa pelakunya. Diketahui 532 orang tewas tahun 1983, 107 tewas tahun 1984, dan 75 orang tewas tahun 1985. Korban petrus ditemukan dalam kondisi tangan dan lehernya terikat, banyak pula yang dimasukkan dalam karung, dibuang kesungai, laut, hutan dan kebun.

9. Politik Apartheid di Afrika Selatan

Setelah perang dunia kedua, partai Nasional memenangkan pemilu pada tahun 1948. Pada tahun 1950, undang-undang baru Afrika Selatan mengelompokkan warga Afrika Selatan menjadi kulit hitam, kulit putih, dan kulit berwarna (orang-orang asia). Warga kulit hitam dikucilkan dan ditempatkan di wilayah yang miskin. Fasilitas umum juga dipisahkan antara fasilitas untuk warga kulit putih dan warga kulit hitam. Pada tahun 1964, pejuang kesetaraan ras Nelson Mandela dan Walter Sisulu dipenjara seumur hidup.  Nelson Mandela menjadi tokoh gerakan anti-apartheid. Terjadi kerusuhan tahun 1976 yang menewaskan 500-1000 warga Afrika Selatan berkulit hitam. Dukungan internasional terhadap kesetaraan kulit putih dan kulit hitam semakin besar sehingga tahun 1990 Nelson Mandela dibebaskan dari penjara dan terpilih menjadi presiden pada tahun 1994.


10. Nasib Kaum Muslim Rohingnya di Myanmar

Di negara Myanmar terdapat entis minoritas yang beragama islam yaitu Etnis Rohingnya yang terletah di negara bagian Rakhine. Mereka tidak diakui sebagai warga negara. Mereka tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan layak, beribadah, dan menikah legal. Etnis menerima perlakuan buruk dan penganiayaan di Myanmar. Pemerintahan Presiden Thein Sein menganggap etnis Rohingnya sebagai orang Bengali atau Bangladesh. Namun Etnis Rohingnya juga tidak diakui oleh pemerintah Bangladesh.

Kerusuhan besar antar agama terjadi pada tahun 2012 dikarenakan seorang gadis yang diduga diperkosa dan dibunuh oleh pemuda Rohingnya, disusul dengan pembunuhan sepuluh muslim oleh orang Rakhine. Dari kerusuhan tersebut, pemerintah Myanmar mengemukakan bahwa 78 orang tewas, 87 orang luka, dan 140.000 orang Rohingnya dan Rakhine terlantar. Pada tahun 2015 Myanmar mencabut kewarganegaraan orang Rohingnya.

Akhirnya banyak etnis Rohingnya yang memilih untuk pergi menggunakan perahu,  terapung-apung di lautan yang luas, dan mengungsi ke Thailand, Malaysia , dan Indonesia.

11. Kasus Munir

Munir Said Thalib atau yang dikenal dengan Munir adalah seorang pejuang HAM. Beliau membela beberapa kasus dalam bidang HAM contohnya kasus Araujo yang dianggap pejuang kemerdekaan Timor Timur dari Indonesia, kasus Marsinah yang merupakan aktivis buruh, kasus pembunuhan petani di tahun 1993, dan lain sebagainya. Pada tahun 2004 Munir melakukan penerbangan ke Belanda, namun dipesawat Munir mengalami sakit dan beberapa kali ke toilet. Terdapat seorang penumpang yang berprofesi sebagai seorang dokter dalam pesawat tersebut yang mencoba menolongnya, namun sesampainya di Amsterdam Munir telah meninggal. Setelah dilakukan otopsi, ditemukan senyawa arsenikum. Setelah dilakukan penyelidikan, tahun 2005 pollycarpus Budihari Priyanto yang merupakan seorang pilot dijatuhi hukuman selama 14 tahun sebagai tersangka pembunuh Munir. Pada tahun 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr ditangkap karena dianggap sebagai dalang pembunuhan. Namun akhir tahun 2008 ia dibebaskan dengan sangat kontroversial. (Baca juga: Hak dan Kewajiban Warga Negara)

12. Pembunuhan Marsinah

Marsinah adalah aktivis buruh yang dianggap sebagai penggerak demo buruh pada tahun 1993. Saat itu buruh menginginkan kenaikan upah yang awalya Rp1700 dinaikkan menjadi Rp2250. Tanggal 6 Mei 1993, Marsinah mulai menghilang dan tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Hingga akhirnya, tangga 8 Mei 1993 Marsinah ditemukan dalam keadaan tewas. Dari hasil otopsi disimpulkan bahwa Marsinah meninggal karena dianiyaya.  Telah dilakukan penyelidikan terhadap kasus ini, namun hasil penyelidikan tidak memuaskan sejumlah pihak dan ada anggapan bahwa hasil penyelidikan kasus ini direkayasa. Salah seorang pengacara yang membela kaum buruh adalah Aktivis HAM Munir. Ia membela 22 buruh yang telah mengalami pemutusan hubungan kerja secara sepihak karena dianggap otak dari unjuk rasa. Munir membela buruh tersebut dalam sidang terhadap Kodam V/Brawijaya, Depnaker Sidoarjo dan PT.CPS Porong.

13. Pelarangan penggunaan Jilbab Pada Masa Orde Baru

Jilbab merupakan pakaian yang seharusnya dikenakan oleh seorang muslimah. Indonesia memiliki populasi penduduk muslim terbesar di dunia, sudah sepantasnya penggunaan jilbab menjadi suatu hal yang wajar dan menjadi hak setiap muslimah. Namun pada pemerintahan orde baru (masa pemerintahan Presiden Soeharto) pernah terjadi pelarangan penggunaan jilbab di lingkungan sekolah. Pada tahun 1982, dikeluarkanlah SK 052/C/Kep/D.82 tentang seragam sekolah nasional. Para siswa yang mengenakan jilbab dianggap tidak mengikuti aturan seragam sekolah. Mereka mengalami teror dan ada pula yang dikeluarkan dari sekolah. Setelah berbagai perjuangan untuk mendapatkan izin pemakaian jilbab, pada tanggal 16 Februari 1991 secara resmi ditandatangani SK 100/C/Kep/D/1992 mengenai aturan bahwa siswa dibebaskan untuk berhijab.

14. Pembunuhan Salim Kancil

Salim Kancil adalah seorang aktivis yang menolak penambangan pasir ilegal di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Ia menolak penambangan pasir ilegal tersebut karena khawatir mengenai kelestarian alam di desa nya. Salim yang berprofesi sebagai petani merasakan dampak buruk dari aktivitas penambangan pasir ilegal, lahannya sejumlah 8 petak hancur. Salim melakukan perlawanan secara diam diam dengan mengirimkan surat ke pihak keamanan dan pemerintah. Namun perlawanan Salim kemudian diketahui penambang ilegal dan dia mulai diancam dan diintimidasi. Meskipun sudah dilarang oleh istrinya karena khawatir, namun Salim tidak berhenti berjuang untuk menolak penambangan pasir. Salim dan warga telah melaporkan ancaman pembunuhan terhadapnya dan warga lain kepada aparat yang berwenang, akan tetapi tidak ada tanggapan dari aparat. Tanggal 26 September 2015 rekan Salim memulai aksi damai dengan menyebarkan selebaran. Kemudian, Salim didatangi oleh puluhan orang dan ia dianiaya hingga meninggal di Balai Desa. Setelah dilakukan sidang oleh Pengadilan Negeri Surabaya bulan Juni 2016, dua pelaku utama pembunuhan dihukum penjara selama 20 tahun.

15. Kasus Pembantaian di Banyuwangi

Kasus ini terjadi pada tahun 1998. Pembunuh dalam kasus ini sering disebut ninja. Terdapat informasi yang menyebutkan bahwa ninja yang dimaksud adalah orang yang mengenakan pakaian hitam dan bersenjata, namun ada pula yang berpendapat bahwa ninja tersebut mampu bergerak sangat cepat seperti ninja dalam tokoh Jepang. Kejadian dilaksanakan dengan sistematis, dengan mematikan listrik secara tiba-tiba dan kemudian terdapat korban pembunuhan saat listrik padam. Target pembunuhan ini adalah para warga yang diduga sebagai dukun santet. Akan tetai setelah dilakukan pendataan, diketahui bahwa diantara korban terdapat tokoh masyarakat (RT/RW), guru mengaji, dan dukun penyembuh.  Menurut Pemkab terdapat total 115 orang yang menjadi korban, dengankan menurut Tim Pencari Fakta Nahdlatul Ulama terdapat 147 orang meninggal.

16. Pembantaian Santa Cruz

Pertemuan antara aktivis yang mendukung integrasi antara Indonesia dan Timor Timur dengan aktivis yang mendukung kemerdekaan Timor Timur dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1991 di gereja Montael Dili. Dari kejadian tersebut terjadi perkelahian yang menewaskan Afonso Henriques (pro-integrasi). Tentara Indonesia menembak Sebastiao Gomes yang merupakan aktivis yang menuntuk kemerdekaan.

Demonstran pro-kemerdekaan Timor Timur mengadakan protes pada prosesi pemakaman Sebastiao Gomes menuntuk kemerdekaan Timor Timur. Pada saat prosesi, pasukan Indonesia menembak demonstran di kuburan yang menyebabkan 271 orang tewas, 328 orang terluka, dan terdapat 250 orang hilang. Kejadian ini membuat dunia internasional memberikan perhatian kepada perjuangan Timor Timur meraik kemerdekaan.

17. Genosida di Dzungar

Kejadian pembantaian ini terjadi sekitar tahun 1755-1758. Pembantaian di Dzungar diawali karena pemimpin Dzungar, Amursana melakukan pemberontakan melawan Dinasti Qing. Dinasti Qing kemudian memerintahkan untuk melakukan pemusnahan terhadap suku Dzungar. Pembantaian ini dibantu oleh Suku Uyghur. Setelah penduduk Dzungar dibantai, tanah tempat mereka tinggal ditinggali oleh suku Han, Hui, Uyghur, dan Xibe.

18. Pembunuhan di Holomodor

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1932 ketika pemerintah Uni Soviet memberlakukan denda karena tidak mematuhi kuota akuisisi produk pertanian dan sereal yang sangat tinggi. Denda ini dilakukan dengan merampas hasil pertanian dan gandum. Di daerah pedesaan tidak diperbolehkan melaksanakan bisnis ritel yang mengakibatkan petani tak dapat membeli roti. Selain itu, pemerintah juga melarang perdagangan minyak tanah dan korek api sebagai akibat dari tunggakan pengiriman sereal. Akibatnya rakyat kelaparan dan hampir 7 juta orang tewas akibat kelaparan. Peristiwa ini dianggap sama kejamnya dengan peristiwa Holocaust oleh Adolf Hitler yang membunuh kaum Yahudi di Jerman.

19. Pengusiran Etnis Adighe di Sirkasia

Pada akhir abad ke-19, penduduk asli kawasan Sirkasia yaitu Etnis Adighe di usir dara tanah yang mereka tempati setelah Rusia menang dalam perang antara Rusia dan Sirkasia. Mereka diusir pada tahun 1864 hingga 1867. Mereka diusir dengan cara dipindahkan oleh tentara Rusia menggunakan kapal yang diberangkatkan dari pelabuhan Laut Hitam. Namun banyak yang menolak pemindahan sehingga mereka terpencar dan sebagian juga terbunuh. Jumlah orang yang tewas tidak diketahui, beberapa meninggal saat menunggu keberangkatan pemindahan, ada pula yang meninggal karena kapal yang mereka tumpangi terkena badai dan tenggelam. Bukan hanya Etnis Adighe yang diusir dari tanah Sarkasia, etnis lain seperti Ubykh, Abkhaz, dan Abaza juga terusir.

20. Permasalahan Aleppo (Suriah)

Permasalahan ini diawali dengan demonstrasi kepada pemerintah Suriah pada 20 Juli 2012.  Saat pemberontak yang menamakan dirinya Tentara Pembebebas Suriah (TPS) memasuki kota Aleppo yang merupakan kota terbesar dan memegang ekonomi Suriah, disanalah perang dimulai. Pemerintah menyerang kawasan yang dikuasai para pemberontak, terjadi baku tembak dan suara ledakan disana.

Pada 4 April 2017, terdapat serangan menggunakan bahan kimia melalui udara yang diperkirakan telah membunuh sekitar 70 orang. Senjata kimia yang dijatuhkan melalui pesaat udara di Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib dimana kawasan tersebut dikuasai oleh pemberontak. Otopsi yang telah dilakukan oleh Turki menyatakan bahwa korban meninggal akibat senjata kimia. Muncul dugan bahwa penggunaan senjata kimia itu didalangi oleh Presiden Bashar Al-Assad (Presiden Suriah). Namun pemerintah Suriah dan Rusia sebagai sekutu menyangkal tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa gas beracun muncul setelah serangan udara yang dilakukan oleh pemerintah mengenai gudang pemberontak yang berisi senjata kimia.

21. Tragedi Semanggi I

Pada tahun 1998 mahasiswa dan masyarakat melaksanakan demonstrasi setiap hari saat diadakan Sidang Istimewa MPR 1998. Mereka juga menentang adanya dwifungsi ABRI/TNI. Tanggal 12 November 1998 demonstran menuju gedung DPR/MPR. Namun, tidak ada yang dapat menembus barisan ketat tentara, brimob, dan Pamswakarsa. Pamswakarsa adalah pengamanan sipil yang menggunakan bambu runcing. Terjadi bentrok di kawasan slipi pada malam hari yang menyebabkan puluhan mahasiswa masuk rumah sakit, salah satu diantaranya yaitu Lukman Firdaus meninggal beberapa hari kemudian setelah kejadian karena terluka parah.

Pada tanggal 13 November 1998, demonstran dikepung menggunakan kendaraan lapis baja. Kendaraan tersebut digunakan untuk membubarkan massa, kemudian terjadi penembakan oleh aparat sehingga mengakibatkan kematian pada beberapa mahasiswa. Peristiwa itu telah menewaskan 17 orang yang terdiri dari mahasiswa, pelajar SMA, POLRI,satpam Hero Swalayan, anggota Pam Swakarsa, dan masyarakat. Selain itu, terdapat 456 korban mengalami luka akibat tembakan, pukulan benda keras. Korban tersebut terdiri dari berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, pelajar, wartawan, aparat keamanan, anggota masyarakat, hingga anak berumur 6 tahun.

Artikel lainnya:

22. Tragedi Semanggi II

Pada tahun 1999, tepatnya pada tanggal 24 September mahasiswa melakukan demo besar-besaran menolak Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya yang dianggap memberi keleluasaan militer menggunakan kekuasaan untuk kepentingannya. Aparat melakukan kekerasan kepada pergerakan mahasiswa tersebut yang mengakibatkan Yun Hap yang merupakan mahasiswa Universitas Indonesia harus meregang nyawa karena luka tembak di depan Universitas Atma Jaya. Aksi penolakan UU ini juga menelan korban di Lampung sebanyak 2 orang mahasiswa meninggal tertembak dan seorang mahasiswa di Palembang juga tewas dengan luka tusukan.

23.Pembunuhan Wartawan Udin

Wartawan Udin memiliki nama lengkap Fuad Muhammad Syarifuddin merupakan seorang wartawan yang tinggal di Yogyakarta. Udin merupakan wartawan yang sering menulis artikel mengenai kebijakan orde baru dan militer. Pada tangga 13 Agustus 1996, ia dipukuli oleh seseorang yang tak dikenal hingga harus menjalani operasi di rumah sakit. Namun karena luka yang dideritanya sangat parah, nyawanya tak terselamatkan.

Dalam pengusutan kasus ini terdapat dua orang yang mengaku telah dijadukan kambing hitam dalam kasus ini. Tri Sumaryani mengaku diminta untuk membuat pengakuan palsu bahwa dia memiliki hubungan gelap dengan Udin sehingga suaminya membunuh Udin. Dia diberi tawaran sejumlah uang untuk melakukan pengakuan tersebut. Selain Tri Sumaryani, Dwi Sumaji juga mengaku menjadi korban kambing hitam dengan dipaksa meminum bir dalam jumlah banyak, diberi tawaran uang, pekerjaan, dan juga pelacur. Di pengadilan, lelaki yang juga dipanggil Iwik mengatakan hal tersebut pada pengadilan yang dilaksanakan pada 5 Agustus 1997.

24. Bom Bali

Bom bali terjadi pada tanggal 12 Oktober 2002. Ledakan terjadi 3 kali, dua diantaranya terjadi di Paddy’s Pub dan Sai Club. Sedangkan satu ledakan lagi terjadi di daerah kantor Konsulat Amerika Serikat. Pengeboman pada tahun 2002 tersebut merupakan pengeboman pertama, pengeboman dengan skala kecil terjadi kembali pada tahun 2005. Diketahui bahwa terdapat 202 meninggal dunia dan 209 orang terluka. Korban dari bom ini kebanyakan adalah turis mancanegara yang sedang berada dilokasi kejadian. Kejadian bom bali ini merupakan terorisme paling parah di Indonesia. Dari investigasi yang dilakukan tim gabungan POLRI dan kepolisian mancanegara diketahui bahwa bom yang digunakan adalah TNT dengan berat mencapai 1 kg, sedangkan bom yang dilepaskan di Sari Club adalah bom RDX dengan berat sekitar 50-150 kg.

25.Pembantaian Komunis 1965-1966

Setelah terjadi kejadian G30S/PKI di Indonesia, orang-orang yang merupakan anggota PKI serta yang dianggap sebagai komunis dibantai. Pembantaian ini terjadi pada masa pergantian dari masa kepemimpinan presiden Soekarno, kepada masa orde baru. Pembantaian diawali pada bulan Januari 1966 bersamaan dengan banyaknya aksi demo yang dilakukan mahasiswa. Pembantaian terjadi diseluruh wilayah Indonesia, akan tetapi pembantaian terparah terjadi di Jawa Tengah, Timur, Bali, dan Sumatera. Pembantaian dilakukan dengan penembakan dan pemenggalan. Ada juga masyarakan yang hanya dituduh sebagai komunis turut menjadi korban.


26. Tragedi Tanjung Priok

Peristiwa ini terjadi pada 12 September 1984, kerusuhan terjadi di wilayah Tanjung Priok, Jakarta. Kerusuhan ini terjadi karena pemerintah Orde Baru menginginkan semua organisasi masyarakat menggunakan nilai leluhur pancasila. Selain itu para ulama juga mengkritisi kebijakan orde baru mengenai larangan menggunakan jilbab. Kesenjangan sosial yang terjadi antara penduduk pribumi dan non-pribumi juga menjadi pendukung.

Pada saat itu seorang penceramah Amir Biki, Syarifin Maloko, M.Nasir menghilang setelah melakukan ceramah agama tanpa izin. Selanjutnya, Telepon berisi ancaman pembunuhan diterima oleh aparat keamanan agar Kodim membebaskan orang-orang yang ditahan. Kemudian masa sebanyak 1500 orang pergi ke Polres Jakarta Utara, sesampainya disana mereka dihadang oleh aparat bersenjata.

Aparat yang tak dapat membubarkan masa akhirnya mundur sejenak sekitar 10 meter, lalu mereka melepaskan tembakan peringatan ke arah tanah dan kaki massa. Konflik antara massa dan aparat keamananpun tak terelakkan. Setelah terjadi saling serang dan bertahan, aparat bersenjata menembaki ribuan massa yang menyebabkan barisan depan massa jatuh bersimbah darah. Hingga hari ini korban penembakan, penangkapan, penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan perampasan hak dan pendidikannya belum juga mendapatkan keadilan.

Artikel lainnya:

27. Pembantaian Suku Aborigin

Suku asli yang menduduki tanah Australia adalah suku aborigin. Pada masa itu suku aborigin sangat primitif. Pada tahun 1770 kapal yang dipimpin oleh James Cook menemukan benua Australia. Penemuan tambang emas membuat semakin banyak pendatang dari Inggris, mereka mengkapling tanah dan bersinggungan dengat tanah milik suku Aborigin. Ditahun 1806, Pembantaian terhadap penduduk pribumi suku aborigin dilakukan. Sekitar sepuluh ribu suku Aborigin meninggal akibat pembantaian. Inggris melihat suku Aborigin sebagai spesies yang tidak membangun sesuai dengan teori evolusi Darwin. Didukung dengan keinginan untuk menguasai Australia membuat Inggris melakukan pembantaian secara sadis terhadap suku Aborigin. Pada tahun 1910-1970 dilaksanakan kebijakan asimilasi dengan mengambil anak suku aborigin yang dibesarkan oleh kulit putih. Anak-anak tersebut harus menggunakan bahasa Inggris dan meninggalkan kebiasaan Aborigin.

Pada tahun 2014, setelah 200 tahun berada dibawah kolonial Inggris, suku aborigin ingin memerdekakan diri. Mereka mengirim surat kepada Ratu Elizabeth II dan pemerintah Australia. Deklarasi mementuk negara Murrawari sebagai tempat tinggal suku Aborigin telah dilakukan. Hingga saat ini masih terjadi diskriminasi terhadap penduduk asli suku Aborigin.

28. Perselisihan Bulukumba

Perselisihan ini terjadi antara PT London Sumatra Plantation dengan rakyat. Kasus ini terjadi pada tahun 1981, pada masa itu rakyat Indonesia ingin mengambil kembali hak nya atas tanah milik adat Kajang. Usaha petani dan masyarakat adat ini terhalangi oleh aparat keamanan. Kasus ini menyebabkan konflik yeng terjadi pada tanggal 21 Juli 2003 yang telah menyebabkan 3 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka. (Baca juga: Penyebab Terjadinya Tindakan Penyalahgunaan Kewenangan)

Demikian peristiwa 28 pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia dan Dunia. Hak Asasi Manusia adalah hak dasar setiap manusia dan tidak boleh direndahkan atau ditindas, untuk itu sangatlah penting perlindungan dari negara dan lembaga sosial akan HAM. 28 pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia dan Dunia menjadi fokus permasalahan bagi negara.

 

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , ,
Post Date: Monday 21st, August 2017 / 16:54 Oleh :
Kategori : HAM