20 Makna Sila Pancasila dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pancasila adalah dasar negara kita Indonesia. Dalam perjalanan sejarah kemerdekaan, perumusan terhadap Pancasila dilakukan tokoh-tokoh pendahulu kita dalam beberapa tahapan. Tahapan yang dilewati merupakan tahapan yang cukup sulit karena terdapat perbedaan pandangan diantara tokoh-tokoh yang ikut andil dalam merumuskan isi dari Pancasila. Dari perumusan yang dilakukan, kemudian ditetapkanlah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Selama hampir 72 tahun Indonesia, Pancasila telah mengalami berbagai gejolak terutama ketika terjadi pemberontakan G30S/PKI yang telah membuat Indonesia mengalami sebuah tragedi berdarah yang menimpa beberapa wilayah di Indonesia. Semenjak peristiwa itulah, Indonesia mengenal hari kesaktian Pancasila yang dipengati setiap tanggal 1 Oktober.

Seperti yang kita ketahui, usaha pemerintah untuk menjaga Pancasila yang memiliki arti penting dan fungsi sebagai pandangan hidup bangsa merupakan usaha yang tidak mudah. Beberapa kali Indonesia mengalami peristiwa yang mengganggu Pancasila sebagai ideologi negara. Peristiwa tersebut tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam negeri Indonesia. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai luhur Pancasila harus dilakukan sejak dini agar generasi muda tidak melupakan nilai dan makna yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri.

Berbicara mengenai makna yang terkandung dalam Pancasila, Pancasila memiliki makna yang dapat kita resapi dan kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui peresapan makna Pancasila yang dilakukan oleh masyarakat, kesatuan dan persatuan bangsa dapat dipererat dan dapat menguatkan stabilitas nasional. Selain itu, makna yang terkandung dalam sila Pancasila dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari agar kehidupan bermasyarakat dan bernegara Indonesia dapat menjadi lebih bermakna. Melalui artikel ini, dibahas lebih lanjut makna-makna yang terkandung dalam Pancasila khususnya pada makna yang terkandung di setiap sila yang menjadi bagian dari Pancasila. Pembahasan makna sila Pancasila dikelompokkan sebagai berikut:

Sila Pertama Pancasila

Sila pertama Pancasila berbunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Melalui sila pertama dalam makna sila pancasila dapat dijabarkan beberapa makna yang terkandung di dalam sila pertama ini. Makna dari sila pertama Pancasila tersebut diantaranya:

  1. Indonesia Menyatakan Kepercayaan dan Ketaqwaan Kepada Tuhan

Indonesia adalah negara yang meyakini dan mengakui kebersaran Tuhan Yang Maha Esa di dalam segala tindakan yang tercermin dalam masyarakat. Karena adanya pengakuan terhadap kepercayaan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Indonesia mengakui beberapa agama di Indonesia sebagai salah satu alat masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia hingga saat ini adalah Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Masing-masing agama dijamin keberadaannya oleh negara dan tidak dapat diganggu oleh siapapun dan apapun. Pernyataan kepercayaan dan ketaqwaan negara kepada Tuhan Yang Maha Esa didasarkan pada nilai-nilai dasar Pancasila pada sila pertama.

Baca juga:

  1. Masyarakat Indonesia percaya dan bertawaqwa kepada Tuhan.

Karena Indonesia mengakui kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, maka negara Indonesia melalui pemerintah menjamin kebebasan setiap penduduk untuk memeluk agama sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Bagi pemerintah Indonesia, pemelukan agama yang dilakukan oleh masyarakat adalah sebuah anjuran untuk meningkatkan kehidupan secara spiritualitas dan dalam hubungannya dengan Tuhan. Oleh karena itu, negara menjamin kebebasan kepada setiap masyarakat melalui undang-undang yang berlaku seperti pada pasal 29 UUD 1945. Diharapkan, melalui pemelukan agama yang dilakukan oleh masyarakat dapat menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Kuasa. Penjaminan melalui undang-undang yang dilakukan oleh pemerintah juga merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam menjaga dan merawat kemajemukan yang ada di dalam masyarakat. (baca juga: Cara Merawat Kemajemukan Bangsa Indonesia)

  1. Terbentuknya Sikap Saling Menghormati Antar Pemeluk Agama.

Sila pertama dalam Pancasila juga mempunyai makna yang mengajak antar pemeluk agama untuk saling menghormati. Perbedaan yang terdapat dalam masyarakat Indonesia karena perbedaan agama bukan dijadikan sebagai salah satu penyebab untuk menciptakan suasana yang tidak menyenangkan bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Perbedaan dalam agama merupakan salah satu anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah diberikan kepada bangsa Indonesia. Sikap saling menghormati amat sangat diperlukan dalam menjaga kerukunan umat beragama untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan apalagi yang dapat mendorong terjadinya konflik sosial di dalam masyakat. (baca juga: Contoh Konflik Sosial dalam Masyarakat)

  1. Tidak diperkenankan Terjadinya Pemaksaan Suatu Agama atau Kepercayaan.

Menganut sebuah agama atau kepercayaan adalah salah satu hak asasi yang dimiliki oleh manusia karena berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan. Seseorang yang sudah memiliki agama atau kepercayaan tidak boleh diintimidasi agar berpindah agama atau kepercayaan karena alasan apapun. Jika hall tersebut dilakukan, maka hal tersebut sudah termasuk dalam salah satu contoh pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah untuk menegakkan hak asasi manusia terutama dalam kaitannya dengan pemelukan agama atau kepercayaan yang dilakukan oleh seseorang.

Sila Kedua Pancasila

Sila kedua Pancasila berbunyi: “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Dari bunyi sila kedua Pancasila ini, terdapat beberapa makna yang dapat kita pelajari untuk menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa makna tersebut diantaranya:

  1. Pengakuan Sesama Manusia Sesuai Dengan Kodratnya.

Di mata bangsa Indonesia, setiap warga negara memiliki persamaan terhadap hak maupun kewajiban yang dimilikinya. Sebagai makhluk sosial, manusia sudah sewajibnya memperlakukan sesamanya sesuai dengan kodratnya karena semua manusia itu sama di mata Yang Maha Kuasa. Seseorang yang mempunyai posisi atau pangkat yang tinggi tidak diperkenankan untuk melakukan tindakan yang semena-mena terhadap orang yang memiliki posisi atau pangkat yang lebih rendah dari dirinya. Oleh karena itu, dalam menegakkan perilaku yang mencerminkan pengakuan manusia sesuai dengan kodratnya, perlu adanya pendidikan karakter terutama di era globalisasi yang membuat pengakuan terhadap orang lain semakin terkikis. (baca juga: Membangun Karakter Bangsa)

  1. Pengakuan Terhadap Persamaan Kedudukan.

Indonesia memiliki landasan hukum persamaan kedudukan warga negara Indonesia untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Melalui landasan hukum yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia, kedudukan warga negara di Indonesia mendapatkan pengakuan. Artinya, setiap warga negara Indonesia berhak unutk mendapatkan pengakuan dan perlakukan yang layak dari sesamanya maupun dari negara. Persamaan kedudukan warga negara di Indonesia membuat warga negara mempunyai rasa senasib dan seperjuangan sehingga tumbuh rasa kemanusiaan kepada orang lain untuk tidak saling meremehkan satu sama lain walaupun orang lain tersebut kurang beruntung nasibnya. (baca juga: Makna Persamaan Kedudukan Warga Negara)

  1. Menumbuhkan Sikap Saling Menghargai.

Sikap saling menghargai di antara sesame manusia perlu ditumbuhkan dalam hati setiap masyarakat. Sikap saling menghargai inilah yang nantinya menumbuhkan rasa simpat dan empati terhadap orang lain. Rasa simpati dan empati yang tumbuh karena adanya sikap menghargai akan membawa keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga terjadi rasa “tepa slira” diantara anggota masyarakat. Sikap saling menghargai tidak hanya dilakukan kepada orang yang kita kenal, tetapi juga kepada orang yang tidak kita kenal termasuk kepada lingkungan baru yang kita kunjungi. Ada pepatah yang mengatakan “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang digunakn sebagai pedoman dalam menumbuhkan sikap saling menghargai. Harapannya, dengan adanya sikap saling menghargai diantara anggota masyarakat, hal-hal yang menjadi faktor penyebab konflik sosial dapat diminimalisir.

  1. Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Humanisme.

Nilai-nilai humanisme erat kaitannya dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai humanisme perlu dimaknai secara mendalam di dalam diri masing-masing individu. Humanisme erat kaitannya dengan perasaan senasib seperjuangan yang membuat seseorang menjadi mudah tersentuh dan ingin melakukan tindakan pertolongan ketika menemui orang-orang yang mengalami suatu kesulitan. Nilai humanisme atau kemanusiaan sangat diperlukan oleh masyarakat Indonesia teturama dalam mengatasi dan membentengi diri terhadap globalisasi yang menyebabkan seseorang makin bersikap indivualistis dan cenderung tidak mempedulikan apa yang sedang terjadi di sekitarnya. (baca juga: Bahaya Globalisasi dan Modernisasi dan Pencegahannya)

Sila Ketiga Pancasila

Sila ketiga Pancasila berbunyi: “Persatuan Indonesia”. Bunyi dari sila ketiga ini tentunya mempunyai makna sila pancasila tersendiri bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Beberapa makna yang terkandung dari sila ketiga Pancasila tersebut diantaranya:

  1. Persatuan Bangsa Adalah Prioritas Utama.

Dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bertanah air, persatuan bangsa adalah hal yang diutamakan. Selama Indonesia mengalami masa perebutan kemerdekaan dari bangsa lain, para pahlawan yang telah gugur mendahului kita telah bersusah payah menyatukan Indonesia melalui perjuangan yang tidak mudah. Berbagai cara yang ditempuh oleh para pahlawan tidak sedikit memerlukan pengorbanan demi tercapainya persatuan Indonesia. Oleh karena itu, dalam menentukan suatu kebijakan baik itu yang dilakukan oleh pemerintah maupun kelompok-kelompok dalam masyarakat hendaknya menjadikan kepentingan umum dan persatuan bangsa sebagai prioritas yang utama agar perjuangan para pahlawan untuk mempersatukan Indonesia tidak menjadi sia-sia. Selain itu, diperlukan juga peran generasi muda dalam mengisi kemerdekaan sebagai bentuk usaha untuk menegakkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca juga:

  1. Pengorbanan Diri Untuk Kersatuan dan Kesatuan Bangsa.

Untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa, diperlukan pengorbanan diri yang tidak main-main. Pengorbanan diri di era sekarang ini bukan lagi berkorban secara nyawa seperti pada masa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, melainkan lebih kepada pengorbanan secara fisik, pemikiran, dan materiil. Dalam mencapai persatuan dan kesatuan bangsa, seseorang rela untuk melakukan tindakan yang bisa saja di luar pemikiran orang awam dan bisa saja dipandang sebagai usaha yang sia-sia terlebih jika masyarakat memandang bahwa persatuan dan kesatuan bangsa itu sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung nilai-nilai pancasila sebagai kepribadian bangsa setidaknya melakukan pengorbanan walaupun secara sedikit demi untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan terutama dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Pemeliharaan Terhadap Ketertiban Umum.

Sebagai bentuk perwujudan persatuan dan kesatuan bangsa, sudah sewajibnya kita ikut melakukan pemeliharaan terhadap ketertiban umum. Pemeliharaan terhadap ketertiban umum dapat kita lakukan melaui kehidupan sehari-hari kita seperti sikap saling menghargai terhadap sesama. Ketertiban umum terganggu karena adanya rasa tidak menghargai dan menghormati yang terjadi di antara anggota masyarakat. Oleh karena itu, pemeliharaan terhadap ketertiban umum dapat dilakukan dari diri kita masing-masing melalui tutur kata dan perbuatan kita yang dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tutur kata dan perbuatan yang kia jaga dalam kehidupan sehari-hari, ketertiban umum dapat terjaga sehingga kemungkinan terjadinya konflik di masyarakat dapat berkurang.

  1. Menumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air.

Makna dari sila ketiga Pancasila salah satunya adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air melalui persatuan dan kesatuan yang dibentuk di dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya dampak globaliasi serta pada bidang lainnya dapat mengurangi rasa cinta tanah air yang dimiliki oleh warga negara Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya penekanan terhadap rasa cinta tanah air agar dapat mendukung kelangsungan hidup berbangsa dan bertanah air Indonesia melalui hal-hal kecil seperti mencitai produk dalam negeri dan sebagainya.

Sila Keempat Pancasila

Sila keempat yang terdapat pada Pancasila berbunyi: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan/perwakilan”. Makna yang terkandung di dalam sila keempat ini berkaitan dengan hak dan kewajiban yang dimiliki oleh segenap warga negara Indonesia. Adapun beberpaa makna yang terkandung dari sila keempat Pancasila antara lain:

  1. Persamaan Hak dan Kewajiban Warga Negara.

Adanya pengakuan persamaan hak dan kewajiban warga negara yang dilakukan oleh pemerintah adalah salah satu bentuk pemaknaan sila keempat Pancasila. Oleh karena itu, terdapat hak dan kewajiban warga negara yang diatur dalam undang-undang sebagai bentuk perwujudan persamaan hak dan kewajiban yang dimiliki oleh setiap warga negara di Indonesia.

  1. Musyawarah Adalah Jalan Untuk Mengambil Keputusan.

Sebagai negara yang menganut prinsip-prinsip demokrasi pancasila, segala keputusan atau kebijakan yang ditentukan harus melalui proses musyawarah. Proses musyawarah dilakukan oleh masyarakat atau pemerintah guna mendapatkan suatu kesepatakan dalam menentukan suatu keputusan. Keputusan yang dihasilkan melalui proses musyarawah nantinya akan diberlakukan secara menyeluruh dan wajib dihormati oleh setiap anggota yang terlibat dalam proses masyarakat tersebut.

  1. Menghormati Keputusan Yang ditetapkan.

Dalam menjalankan suatu proses musyawarah, terjadi proses pengungkapan pendapat di dalam forum tersebut untuk menghasilkan suatu keputusan. Ketika keputusan itu ditetapkan melalui proses musyawarah, setiap anggota forum wajib sebaiknya menghormati keputusan yang telah ditetapkan sekalipun keputusan tersebut bukan merupakan pendapatnya. Sikap menghormati keputusan yang ditetapkan merupakan bentuk penerapan sila ketiga dan keempat Pancasila sekaligus. (baca juga: Cara Mengemukakan Pendapat)

  1. Pengutamaan Kepentingan Umum.

Pengutamaan kepentingan umum adalah suatu keharusan yang dilakukan dalam menentukan suatu kebijakan atau keputusan. Dengan adanya pengutamaan terhadap kepentingan umum, kebutuhan dan kepentingan masyarakat akan dapat dipenuhi melalui kebijakan-kebijakan yang dihasilkan melalui proses perundingan atau musyarawah. Tentunya proses musyawarah yang dilakukan berdasarkan asas-asas demokrasi Pancasila sehingga kepentingan rakyat menjadi hal yang utama dalam penentuan suatu kebijakan atau keputusan.

Sila Kelima Pancasila

Sila kelima Pancasila berbunyi: “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Melalui sila kelima ini, dapat ditarik beberapa makna yang terkandung di dalamnya. Beberapa makna dalam sila kelima Pancasila ini antara lain:

  1. Menjunjung Tinggi Keadilan Dalam Kehidupan Bermasyarakat.

Nilai-nilai keadilan di dalam kehidupan bermasyarakat wajib dijunjung tinggi untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di Indonesia. Keadilan yang dijunjung tinggi di dalam kehidupan bermasyarakat tidak hanya pada keadilan dalam aspek sosial saja tetapi juga dalam aspek hukum dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Jika keadilan tidak dijunjung tinggi, maka akan menimbulkan dampak tertentu dalam keberlangsungan persatuan dan kesatuan bangsa. (baca juga: Bahaya Akibat Jika Tidak ada Keadilan dalam Masyarakat)

  1. Menjaga Keseimbangan diantara Hak dan Kewajiban.

Menjaga keadilan juga menjaga keseimbangan antar hak dan kewajiban yang dimiliki oleh manusia. Seseorang tidak dapat menuntut hak secara terus-menerus jika seorang tersebut tidak melakukan kewajiban sesuai dengan porsi yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu, proses penjagaan terhadap keseimbangan antara hak dan kewajiban yang dimiliki oleh seseorang perlu dilakukan agar tidak menimbulkan ketimpangan sosial di dalam masyarakat yang dapat menimbulkan dampak tertentu. (baca juga: Dampak Ketimpangan Sosial)

  1. Tidak Mengganggu Hak dan Kewajiban Orang Lain.

Sebagai seseorang yang memiliki persamaan yang hak dan kewajiban di mata negara, sudah seharusnya seseorang tersebut tidak mengganggu hak dan kewajiban yang dimiliki sebagai bentuk dari penerapan keadilan sosial di dalam lingkungan masyarakat. Hak dan kewajiban yang dimiliki oleh seseorang tidak dapat diintervensi oleh orang lain demi kepentingan tertentu karena sikap intervensi ini dapat dianggap sebagai sebuah tindakan yang tidak mencerminkan keadilan bagi sesorang tersebut.

  1. Pemberian Penghargaan Terhadap Karya Orang Lain.

Pemberian penghargaan terhadap karya orang lain merupakan salah satu makna yang terkadung dalam sila kelima Pancasila. Pemberian penghargaan terhadap karya orang lain harus dilakukan seadil-adilnya dan sejujur-jujurnya. Jika karya tersebut adalah karya yang baik, jangan sungkan-sungkan untuk memberikan apresiasi yang sesuai dengan karyanya. Namun jika karya tersebut kurang memuaskan, kita dapat memberikan penilaian yang dapat membangun bukan malah memberikan kritik yang semakin menjatuhkan.

Demikianlah beberapa makna yang dapat diambil dari sila yang terdapat pada Pancasila. Makna-makna tersebut dapat kita resapi dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari agar terjalin persatuan dan kesatuan yang mantap terhadap  kehidupan berbangsa dan bertanah air. Kiranya artikel ini dapat bermanfaat bagi pada pembaca sekalian.

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , ,
Post Date: Saturday 24th, June 2017 / 16:34 Oleh :
Kategori : Pendidikan