Sponsors Link

10 Peran Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian

Sponsors Link

Tempat dimana seorang anak bertumbuh dan berkembang untuk pertama kalinya adalah keluarga. Pendidikan yang pertama kali diperoleh seorang anak berawal dari keluarga. Proses pembentukan kepribadian dan karakter seorang anak berawal dari keluarga.

ads

Tidak sedikit faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian yang mengerucut pada dua faktor. Faktor pertama adalah faktor internal yaitu keluarga (orang tua) dan kedua, faktor eksternal yaitu sekolah dan masyarakat. Faktor-faktor ini saling berkaitan dan mendukung satu sama lain dalam membentuk kepribadian seorang anak. Namun, faktor keluarga adalah faktor yang paling utama karena dari sinilah semua berawal.

Orang tua memiliki peranan yang sangat besar dalam proses tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan dan pembentukan kepribadian seorang anak. Di sini peran orang tua dalam mendidik anak sangat penting. Proses pembentukan kepribadian yang diperankan oleh keluarga tidak dapat dilepaskan dari fungsi keluarga itu sendiri. BKKBN merumuskan keluarga memiliki beberapa fungsi, yaitu agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi pendidikan, ekonomi dan lingkungan.

Berikut peran-peran keluarga dalam pembentukan kepribadian seorang anak menurut fungsi keluarga yang dirumuskan BKKBN.

1. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Agama

Keluarga merupakan pondasi pendidikan agama kepada seorang anak. Penerapan nilai-nilai agama dapat menghindarkan seorang anak dari hal-hal yang melanggar hukum seperti misalnya korupsi. Ini adalah salah satu cara menanamkan kesadaran hukum kepada seorang anak.

Untuk menjalankan fungsi agama, maka keluarga berperan dalam menciptakan pondasi pendidikan agama yang kuat kepada anak berdasarkan agama yang dianut melalui :

  1. Penanaman nilai-nilai keagamaan
  2. Keteladanan bersikap jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan
  3. Penerapan nilai moral dan sikap toleransi
  4. Keteladanan dan bimbingan untuk selalu menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan agama
  5. Keteladanan, bimbingan, dan dorongan untuk selalu disiplin, rajin dan ikhlas menjalankan kewajiban agama dengan penuh rasa tanggung jawab
  6. Keteladanan dan bimbingan untuk peduli pada orang lain, membantu orang yang membutuhkan tanpa pamrih
  7. Keteladanan dan bimbingan untuk taat aturan dan tepat janji
  8. Keteladanan dan bimbingan untuk saling menghormati, tidak bersikap kasar dan berperilaku sopan
  9. Keteladanan dan bimbingan untuk selalu bersikap tenang dan sabar ketika menghadapi persoalan

Dengan memiliki dasar-dasar pendidikan agama yang baik yang diperoleh dari keluarga, seorang anak akan memiliki nilai dan norma yang dapat menuntunnya menjadi pribadi yang beriman, bertaqwa, jujur, bertoleransi, rajin, saleh, taat, suka membantu, disiplin, sopan santun, penyabar, ikhlas, penuh kasih sayang, cinta kepada Tuhan, kebenaran, dan berakhlak terpuji. Jika setiap anak bangsa memiliki akhlak yang terpuji maka suatu bangsa juga akan memiliki karakter yang terpuji pula. (baca : Peran Akhlak Dalam Pembentukan Karakter Bangsa)

2. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Sosial Budaya

Keluarga merupakan tempat ditanamnya nilai-nilai budaya yang dianut. Indonesia adalah negara yang memiliki budaya, agama, dan suku yang sangat heterogen. Heterogenitas Indonesia dikenal dengan Bhinneka Tunggal Ika. Seorang anak harus benar-benar dapat memahami dan menjiwai semoboyan ini. Jika seorang anak merasa agamanya atau sukunya paling benar maka hal ini merupakan salah satu penyebab lunturnya Bhinneka Tunggal Ika. Jiwa kebhinnekaan ini hendaknya jangan sampai luntur. Untuk itu keluarga berperan dalam menciptakan pondasi pendidikan sosial budaya melalui :

  1. Penanaman dan pengembangan nilai-nilai toleransi sehingga anak dapat memahami fungsi toleransi dalam kehidupan sehari-hari
  2. Penanaman dan pengembangan sikap saling tolong menolong
  3. Keteladanan untuk saling menghormati dan menghargai budaya lain
  4. Penanaman dan pengembangan rasa kebersamaan dan saling berbagi
  5. Bimbingan  cara melestarikan budaya
  6. Penanaman, pengembangan serta keteladanan dalam menghargai jasa para pahlawan, mencintai produk dalam negeri, dan pemahaman tentang pengaruh globalisasi dalam kehidupan

Dengan memiliki dasar-dasar pendidikan sosial budaya yang diperoleh dari keluarga, seorang anak akan memiliki pribadi yang penuh rasa toleransi dan saling menghargai, gotong royong, sopan santun, rasa kebersamaan dan kerukunan, peduli, dan cinta tanah air.

ads

3. Keluarga sebagai Tempat Menumbuhkembangkan Rasa Kasih Sayang

Kasih sayang di antara anggota keluarga sangat dibutuhkan dalam rangka mempererat ikatan di antara anggota keluarga. Rasa kasih sayang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak menjadi pribadi yang dapat menghargai dan menghormati orang lain serta makhluk hidup lainnya. Sikap ini akan membuat seseorang tidak akan berlaku sewenang-wenang.

Peran keluarga sebagai tempat menumbuhkembangkan rasa kasih sayang melalui :

  1. Keteladanan untuk berempati pada orang lain
  2. Pelatihan emosional anak
  3. Dibangunnya rasa kepedulian di antara anggota keluarga
  4. Pemahaman agar memperlakukan orang lain sesuai dengan kapasitasnya
  5. Pelatihan agar tidak bersikap egois
  6. Bimbingan dan pengembangan sikap loyal pada keluarga, teman sebaya dan orang lain
  7. Keteladanan untuk selalu membantu orang lain
  8. Keteladanan, bimbingan, dan pembiasaan untuk bersikap penuh rasa tanggung jawab

Rasa afeksi yang dikembangkan oleh keluarga akan membuat anak memiliki kepribadian yang penuh rasa empati, supel, adil, pemaaf, setia, suka menolong, bertanggung jawab, santun, hormat serta penuh kasih sayang.

Terkadang anak merasa tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya. Kekurangan kasih sayang ini diakibatkan orang tua yang terlalu sibuk sehingga bersikap abai terhadap anak-anaknya. Jika bertemu dengan orang-orang yang bernasib sama dan memiliki perilaku yang buruk maka dapat mengakibatkan seorang anak melakukan hal-hal yang melanggar hukum. Misalnya tawuran, bersikap buruk pada temannya atau istilah kerennya “bullying”, terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan lain-lain. (baca : Penyebab Tawuran dan Cara Mengatasinya, Akibat Bullying dan Cara Mengatasinya, dan Bahaya Narkoba bagi Generasi Muda).

4. Keluarga sebagai Tempat Berlindung

Di era globalisasi seperti sekarang, ancaman terhadap tumbuh kembang anak begitu nyata di depan mata. Berbagai kasus yang timbul seperti kekerasan pada anak, peredaran narkoba yang begitu pesat, pornografi, LGBT, serta radikalisme merupakan lima masalah besar yang dihadapi saat ini. Untuk mencegahnya, maka diperlukan kerjasama antara berbagai pihak terutama keluarga guna melindungi anak dari ancaman-ancaman yang ada.

Untuk menjalankan fungsi perlindungan, maka keluarga berperan sebagai tempat berlindung melalui :

  1. Diciptakannya rasa aman dalam setiap aspek kehidupan
  2. Keteladanan untuk memaafkan kesalahan orang lain tanpa dendam, berani mengakui kesalahan sendiri dan memperbaikinya
  3. Tanggap terhadap perasaan dan permasalahan yang dihadapi oleh anak
  4. Keteladanan dalam pengendalian diri dan bersikap sabar dalam segala situasi
  5. Keteladanan dalam menumbuhkembangkan sikap peduli dan setiakawan anak dengan lingkungan sekitar
  6. Komunikasi yang intens antara orang tua dan anak

Di sini, seorang anak bercermin pada tindakan yang dilakukan oleh orang tuanya ketika melindungi dirinya dari hal-hal yang membahayakan. Di sini peran ayah dalam keluarga sangat penting. Hal ini membuat seorang anak belajar untuk memiliki kepribadian sebagai seorang pemimpin yang adil, amanah dan bertanggung jawab terhadap keluarga, memberi rasa aman, pemaaf, pribadi yang tanggap, tabah, peduli.

5. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Reproduksi

Terkait dengan berbagai ancaman yang mengintai tumbuh kembang anak, satu hal yang tak kalah penting adalah pendidikan seks kepada anak. Hal ini bertujuan agar anak dapat mengetahui dan memahami tentang kesehatan reproduksi serta menjaga organ reproduksi berdasar nilai dan norma yang dianut.

Untuk menjalankan fungsi reproduksi, maka keluarga berperan sebagai pondasi pendidikan reproduksi melalui :

  1. Pendidikan seks sejak dini agar anak dapat bertanggung jawab terhadap fungsi reproduksi
  2. Bimbingan dan penjelasan tentang kesehatan reproduksi melalui diskusi, pemberian kepercayaan, dan rasa tanggung jawab
  3. Bimbingan tentang akibat pergaulan bebas, larangan seks pra nikah, dan norma-norma yang mengatur

Hal-hal tersebut dapat menuntun anak untuk memiliki kepribadian yang mampu bertanggung jawab, sehat dan teguh pendirian.

6. Keluarga sebagai Agen Sosialisasi Pendidikan

Sebagai tempat bersosialisasi, keluarga berperan dalam memberikan pengenalan atau memberikan pendidikan mengenai hubungan seorang anak dengan orang-orang disekitarnya sebagai bekal untuk masuk ke lingkungan sosial yang lebih luas. Lingkungan sosial setelah keluarga yang dimasuki seorang anak adalah sekolah dan masyarakat.

Untuk itu, peran keluarga sebagai agen sosialisasi pendidikan meliputi :

  1. Keteladanan dan pelatihan sikap percaya diri
  2. Bimbingan, dorongan dan pelibatan anak dalam berbagai aktivitas
  3. Keteladanan untuk bersedia mendengarkan atau menghargai pendapat orang lain
  4. Pelibatan anak dalam komunikasi keluarga
  5. Pelatihan untuk selalu bersyukur
  6. Pelatihan untuk menghargai diri sendiri
  7. Keteladanan dalam rajin beribadah dan dalam berbagai aspek kehidupan
  8. Keteladanan, bimbingan dan pelibatan anak dalam berbagai aktivitas yang bermanfaat
  9. Disiplin waktu
  10. Bimbingan untuk bersikap tolong menolong, kerja kelompok, setia kawan

Hal-hal tersebut dapat menuntun anak untuk memiliki kepribadian yang mampu bekerja sama, disiplin dan bertanggung jawab.

7. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Ekonomi

Keluarga merupakan tempat pembinaan dan penanaman nilai-nilai dan perencanaan keuangan keluarga agar terwujud keluarga sejahtera. Untuk menjalankan fungsi ekonomi, keluarga berperan dalam :

  1. Keteladanan dan bimbingan agar cermat, dan hati-hati dalam membelanjakan uang
  2. Keteladanan dan bimbingan agar taat waktu dan taat aturan
  3. Keteladanan dan bimbingan untuk membantu orang yang membutuhkan
  4. Keteladanan untuk terus berusaha tanpa putus asa

Hal-hal tersebut dapat menuntun anak untuk memiliki kepribadian yang hemat, teliti, disiplin, peduli, dan ulet.

Sponsors Link

8. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Lingkungan

Pentingnya lingkungan yang sehat dan bersih perlu dilakukan sejak dini agar anak memahami dan peduli pada lingkungan hidup di sekitarnya. Adapun peran keluarga sebagai pondasi pendidikan lingkungan adalah :

  1. Keteladanan dan bimbingan untuk selalu berperilaku bersih dalam segala hal
  2. Bimbingan untuk disiplin memelihara lingkungan sekitar
  3. Bimbingan untuk bijak dalam penggunaan teknologi
  4. Bimbingan untuk berpartisipasi dalam upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan
  5. Pemahaman tentang dampak hubungan manusia dengan lingkungan
  6. Penanaman sikap peduli pada lingkungan

Hal-hal tersebut dapat menuntun anak untuk memiliki kepribadian selalu menjaga kebersihan lingkungan.

9. Tempat memenuhi kebutuhan fisik maupun emosional

Keluarga berperan dalam usaha pemenuhan hidup seorang anak baik fisik maupun emosional. Kemajuan teknologi tak dipungkiri sangat mempengaruhi hubungan emosional ini. Anak lebih tertarik bermain gawai dibanding berada di tengah-tengah keluarga. Begitu pula sebaliknya. Tak jarang walaupun berada di satu ruangan namun sibuk dengan dunianya masing-masing. Anak menjadi tidak peka dan tidak peduli. Untuk mensiasatinya, orang tua harus meluangkan waktu dan berkomunikasi dengan baik-baik.

10. Motivator utama bagi seorang anak

Seorang anak pasti memiliki ketertarikan akan hal-hal tertentu dan cita-cita dalam hidupnya. Bila seorang anak mengalami kegagalan dalam perjalanan meraih cita-citanya, orang tua adalah pihak pertama yang harus dapat memberikan motivasi dan dukungan. Motivasi dan dorongan dukungan ini sangat penting agar seorang anak tidak terpuruk dan dapat bangkit lagi untuk berjalan meraih cita-citanya.

Ketika seorang anak merasa jenuh dengan sekolahnya, orang tua wajib membantu dengan memberikan motivasi bahwa sekolah penting masa depan. Jika anak mulai malas belajar, orang tua orang tua terlebih dahulu mengindentifikasi hal-hal yang menjadi penyebab anak sekolah menjadi malas belajar. Kemudian, mengingatkan dan memberi semangat belajar kepada anaknya tanpa kekerasan. Hal ini sangat penting agar anak menemukan kembali semangat belajarnya demi meraih cita-citanya. (baca : Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak, Cara Meningkatkan Disiplin Belajar Anak, dan Cara Meningkatkan Semangat Belajar)

Ads

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , , ,
Post Date: Saturday 04th, June 2016 / 07:55 Oleh :
Kategori : Moral